STRATEGI FINANSIAL DALAM KEGIATAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.   Umum

Strategi finansial sangat dibutuhkan dalam industri pengelolaan sumberdaya mineral. Tanpa adanya kemampuan finansial yang memadai, sulit untuk mentransformasikan kekayaan alam yang masih terpendam di dalam perut bumi menjadi kekayaan rill yang dapat segera dimanfaatkan. Hal ini karena kegiatan pengelolaan sumberdaya mineral adalah sebuah industri dengan karakteristik yang agak berbeda dengan industri lain pada umumnya. Pengelolaan sumberdaya mineral harus dilaksanakan melalui berbagai tahapan yang membutuhkan keahlian dan teknologi yang tinggi, agar kegiatan tersebut pada akhirnya dapat bernilai ekonomis.

Selain itu, dalam pengembangan sumber daya mineral juga terdapat resiko mengenai jumlah dan kualitas cebakan yang masih harus dicari. Terdapat kemungkinan variasi jumlah dan kualitas cebakan yang sangat beragam, mulai dari tidak terdapat mineral sama sekali, sampai temuan yang sangat besar jumlahnya dengan kualitas yang sangat bagus. Karena besarnya kemungkinan keberhasilan dan juga kegagalan yang mungkin terjadi, pengembangan sumberdaya mineral sering juga dikatakan mirip sebuah pertaruhan atau perjudian. Jelas sekali resikonya tinggi, tetapi bila berhasil, keuntungannya (return of investment, ROI) akan berlipat ganda. Oleh sebab itu faktor permodalan yang kuat akan sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan tersebut.

1.2.   Maksud dan Tujuan

Penulisan paper ini dimaksudkan untuk membahas mengapa strategi finansial yang baik sangat dibutuhkan dalam industri pengelolaan sumberdaya mineral. Sebagaimana telah disampaikan dalam sub bab terdahulu, fenomena tersebut disebabkan karena adanya karakteristik khusus yang melekat pada industri tersebut dan faktor variasi keberadaan dan kualitas mineral yang sangat beragam. Hal ini akan diperjelas lagi pada bab selanjutnya, dengan mengulas permasalahan yang pernah dialami oleh sebuah industri pertambangan besar di Indonesia bagian Timur. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai melalui diskusi dan pembahasan dalam paper ini adalah memaparkan strategi finansial yang mungkin dapat ditempuh guna menangani permasalahan permodalan yang dihadapi industri pengelolaan sumberdaya mineral.

BAB II. SUMBER PERMODALAN DALAM  INDUSTRI PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL

2.1.   Berbagai Sumber Permodalan

Di bidang pengembangan sumberdaya mineral, karena karakteristik dan resikonya, sumber permodalan pada umumnya tidak berasal dari bank, kecuali pada tahap yang sudah mapan dan aman dimana resiko dan peluang sudah bisa diukur. Secara ringkas, sumber permodalan digolongkan sebagai berikut :

  1. Penyertaan modal Pemerintah (umumnya kepada BUMN), bentuknya bisa bermacam – macam, mulai dari pinjaman negara lain, pinjaman dari lembaga keuangan internasional, bantuan teknik, hibah, dan lain-lain.
  2. Dana yang sengaja disisihkan dari laba perusahaan untuk pengembangan. Dana semacam ini merupakan rencana yang dianggarkan untuk pengembangan tersebut. Mineral pada suatu ketika akan habis (depleted), sehingga perlu dicari terus. Perusahaan tidak segan-segan menyisihkan sebagian labanya untuk melakukan eksplorasi.
  3. Lembaga keuangan nonbank. Lembaga ini merupakan perusahaan yang dapat mencarikan dan mengadministrasikan kredit untuk investasi tersebut. Secara umum badan atau perusahaan semacam ini dikenal pula sebagai fund arranger.
  4. Pasar modal atau bursa saham. Dengan cara ini dana untuk pengembangan pertambangan diharapkan dapat selalu tersedia, karena sumbernya lebih luas, yaitu masyarakat.

Sumber – sumber permodalan tersebut di atas pada akhirnya juga akan membentuk karakteristik industri pengembangan sumberdaya mineral tersebut. Hal ini terjadi karena pemilik modal sudah tentu memiliki hak untuk turut campur dalam menentukan kebijakan yang ditempuh oleh perusahaan tersebut.

2.2. Privatisasi Sebagai Usaha Pencarian Modal

Selain sebagai solusi permodalan, secara keseluruhan privatisasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. Tingkat efisiensi yang rendah bisa terjadi karena kurang sempurnanya pengawasan sebagai akibat terbatasnya kemampuan perusahaan dalam mengontrol seluruh kegiatan yang terkait. Privatisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa diantaranya yang lazim dilaksanakan berupa :

  1. Penggabungan atau merger dengan pihak swasta yang lebih mampu penampilan kinerjanya (akuisisi atau likuidasi)
  2. Kerja sama operasi atau KSO, masing – masing pihak membawa peralatan dan kemampuan untuk digabungkan.
  3. Melalui pasar modal atau penawaran umum (initial public offering, IPO). Masyarakat diberi kesempatan langsung untuk membeli saham perusahaan negara.

Privatisasi terutama terjadi karena perusahaan membutuhkan modal finansial untuk menjalankan fungsinya Dengan keterbatasan modal, pengembangan perusahaan akan sangat lambat, bahkan mungkin tidak mengalami pengembangan sama sekali (stagnasi). Dalam dunia pertambangan, stagnasi adalah memulai proses kematian. Pada PT. Freeport Indonesia, privatisasi terjadi terutama karena perusahaan memerlukan modal untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini adalah target untuk meningkatkan kapasitas produksi sejalan dengan semakin besarnya cadangan mineral yang telah ditemukan, dan adanya kebutuhan untuk melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan.

Disisi lain, sebagai sebuah industri pertambangan besar, PT. Freeport Indonesia memiliki berbagai divisi yang mengelola berbagai fasilitas pendukung kegiatan yang terus berkembang seiring dengan semakin besarnya kebutuhan perusahaan. Fasilitas – fasilitas tersebut umumnya tidak berhubungan langsung dengan kegiatan inti perusahaan di bidang pertambangan, namun juga sangat berperan dalam mempengaruhi kelancaran kegiatan produksi, terlebih karena kondisi geografis PT. Freeport Indonesia. Karena lokasinya yang terpencil, perusahaan mau tak mau harus membangun sendiri diivisi – divisi yang menangani bermacam fasilitas guna memenuhi kebutuhan perusahaan dan karyawannya. Berbagai divisi tersebut antara lain berperan dalam penanganan akomodasi, transportasi, logistik, kelistrikan dan pelayanan kesehatan.

Pengelolaan berbagai fasilitas tersebut pada akhirnya menjadi kontraproduktif jika kesemuanya harus ditangani langsung oleh PT. Freeport Indonesia, terutama fasilitas yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis inti. Oleh karena itu diputuskan untuk melepaskan semua urusan yang bukan termasuk ke dalam core business kepada pihak lain melalui proses privatisasi. Dengan langkah ini sekaligus diperoleh keuntungan berlipat bagi perusahaan, yakni masuknya dana segar, lepasnya tanggung jawab perusahaan dan semakin profesionalnya penanganan bidang – bidang yang diprivatisasikan tersebut karena telah diambil alih oleh investor yang memang ahli dibidangnya.

Disamping privatisasi, PT. Freeport Indonesia juga mencari jalan lain untuk mendapatkan dana yang dibutuhkannya. Salah satunya melalui kerjasama dengan perusahaan pertambangan lain yang lebih mapan dengan model patungan untuk membiayai kebutuhan eksplorasi, eksploitasi dan industri pengolahannya. Dengan cara kerjasama tersebut perusahaan dapat terus berkembang dan tumbuh semakin besar tanpa semata – mata harus mengandalkan dukungan perbankan atau melepas saham seperti yang dilakukan sebelumnya.

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN, STRATEGI FINANSIAL DALAM KEGIATAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

Berdasar ulasan permasalahan permodalan pada bab sebelumnya, terlihat bahwa strategi finansial mempunyai pengaruh sangat penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan sumberdaya mineral. Keberhasilan yang diraih PT. Freeport Indonesia tak terlepas dari strategi finansial berupa privatisasi yang didasarkan pada konsep efisiensi. Melalui privatisasi dan kerjasama patungan, perusahaan mendapatkan dana segar sebagai modal bagi kelangsungan dan pengembangan usaha sekaligus keuntungan teknis dan strategis karena beban tanggung jawab telah beralih kepihak investor yang lebih profesional dibidangnya.

Strategi finansial seperti yang dikemukakan tersebut pada prinsipnya juga dapat diterapkan pada industri pertambangan secara umum. Melalui privatisasi, selain sebagai solusi permodalan, secara keseluruhan juga dapat ditujukan guna meningkatkan efisiensi. Tingkat efisiensi yang rendah bisa terjadi karena kurang sempurnanya pengawasan, dengan istilah lain, kurangnya transparansi. Mekanisme transparansi yang paling ampuh adalah kontrol sosial, yaitu publik yang melakukan pengawasan secara langsung. Untuk melibatkan publik, mereka harus mempunyai kepentingan, yakni jika mereka ikut memiliki perusahaan itu.

Privatisasi pada suatu industri terjadi terutama karena industri tersebut membutuhkan modal finansial untuk menjalankan fungsinya. Dengan keterbatasan modal, pengembangan suatu industri akan sangat lambat, bahkan mungkin tidak mengalami pengembangan sama sekali (stagnasi). Karena itu, cepat atau lambat banyak perusahaan akan mengalami kematian jika tidak dapat menemukan solusi dan strategi finansial yang tepat.

Privatisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagaimana yang telah ditempuh dengan sukses oleh PT. Freeport Indonesia. Namun satu hal yang perlu diperhitungkan adalah bahwa sumber permodalan finansial umumnya membentuk kecendrungan orientasi suatu industri. Ini terjadi karena adanya peran pemilik modal dalam menentukan kebijakan yang ditempuh oleh perusahaan.

BAB IV. KESIMPULAN

Tanpa adanya strategi finansial yang tepat, sulit untuk mentransformasikan kekayaan alam yang masih terpendam di dalam perut bumi menjadi kekayaan rill yang dapat segera dimanfaatkan. Hal ini karena kegiatan pengelolaan sumberdaya mineral adalah sebuah industri dengan karakteristik yang agak berbeda dengan industri lain pada umumnya.

Selain sebagai solusi permodalan, secara keseluruhan strategi finansial berupa privatisasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. Tingkat efisiensi yang rendah bisa terjadi karena kurang sempurnanya pengawasan sebagai akibat terbatasnya kemampuan perusahaan dalam mengontrol seluruh kegiatan yang terkait. Pada kasus PT. Freeport Indonesia, privatisasi terjadi terutama karena perusahaan memerlukan modal yang sangat besar untuk mencapai tujuannya ekonomisnya.

Disamping privatisasi, strategi finansial lainnya untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan adalah melalui kerjasama dengan perusahaan pertambangan lain yang lebih mapan dengan model patungan. Dengan cara kerjasama tersebut perusahaan dapat terus berkembang dan tumbuh semakin besar tanpa semata-mata harus mengandalkan dukungan perbankan atau melepas saham seperti yang biasa dilakukan sebelumnya.

Dipublikasi di Semester II | Meninggalkan komentar

ANALISIS KEUANGAN (FEASIBILITY STUDY) USAHA INVESTASI “A”

Analisis investasi digunakan untuk mengukur apakah suatu investasi yang akan dilakukan benar-benar memberikan hasil yang menguntungkan (mendatangkan laba). Analisis ini perlu dilakukan, karena nilai uang sangat dipengaruhi oleh waktu dan tingkat bunga. Nilai Rp. 1.000.000,- saat ini tidaklah sama dengan nilainya pada lima tahun mendatang. Nilai real Rp.1.000.000,- akan lebih kecil dari nilai nominalnya.

Ada banyak peralatan yang bisa digunakan untuk mengukur kelayakan investasi, diantaranya adalah NPV (Net Present Value), Ratio B/C (ratio Benefit and Cost) dari IRR (Internal Rate Return). Sementara periode mengembalikan dapat diukur dengan menggunakan rumus Payback Periods.

Contoh :

Diketahui Investasi “A” membutuhkan investasi awal sebesar Rp. 77.000.000. Pada tahun kedua sudah dapat mendatangkan hasil. Sedangkan biaya operasional yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp. 273.198.000,- selama 6 bulan atau Rp. 546.396.000,- untuk setiap tahun, yang terdiri dari pengeluaran Rp.514.596,-, gaji dan upah Rp.31.800.000. Investasi berumur 5 tahun, Salvage Value Rp.45.000.000,-. Dengan investasi tersebut investasi “A” akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 652.800.000,- per tahun.

1. Analisis Proyeksi Laba/Rugi Investasi “A”

Analisis Ini diperlukan untuk memberikan gambaran bahwa proyek tersebut sangat profitable yaitu membandingkan nilai profit per tahun dibagi kapital dengan suku bunga bank per tahun.

Tabel 1. Proyeksi Laba/Rugi Investasi Usaha “A” ( Rp 000)

Uraian

Tahun

1

2

3

4

5

1. Pendapatan
a. Penjualan Bersih

652.800

652.800

652.800

652.800

652.800

b. Salvage Value

45.000

2. Total Pendapatan

652.800

652.800

652.800

652.800

697.800

3. Pengeluaran

591.596

514.596

514.596

514.596

514.596

4. Laba Kotor

61.204

138.204

138.204

138.204

183.204

5. Gaji dan Upah

31.800

31.800

31.800

31.800

31.800

6. Laba

29.404

106.404

106.404

106.404

151.404

2. Analisis NPV (Net Present Value)

NPV atau nilai bersih sekarang adalah alat yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari laba suatu investasi apakah investasi tersebut memberi keuntungan atau bahkan sebaliknya. NPV dihitung dengan cara menghitung nilai sekarang laba (nilai sekarang pendapatan dikurangi nilai sekarang investasi / biaya operasional) tahun pertama hingga tahun terakhir umur proyek investasi. kemudian nilai sekarang laba tahun pertama hingga tahun terakhir dijumlahkan. Proyek investasi ini baru layak dijalankan (GO) jika total nilai sekarang laba lebih besar dari 0 (Nol). Hasil dari perhitungan NPV nya dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 2. Hasil NPV investasi “A” (Rp. 000)

Tahun Ke

Pendapatan

Biaya

Laba

Diskon Faktor

NPV

NPV Akumulatif

1

652.800

623.396

29.404

0,84746

24.919

24.919

2

652.800

546.396

106.404

0,71818

76.418

101.336

3

652.800

546.396

106.404

0,60863

64.761

166.097

4

652.800

546.396

106.404

0,51579

54.882

220.979

5

652.800

546.396

106.404

0,43711

46.510

267.489

455.020

267.489

Berdasarkan Tabel 2. dapat dilihat, bahwa hasil perhitungan Net Present Value (NPV) = Rp. 267.489.000. Berarti NPV > 0 dengan demikian proyek ini layak untuk di usahakan.

3. Analisis Gross Benefit Cost Ratio (Rasio B/C)

Rasio Gross B/C adalah rasio dari pendapatan (B=Benefit) dibandingkan dengan biaya (C=Cost) yang telah dihitung nilai sekarangnya (telah didiscount factor). Analisis ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan analisis NPV. Proyek investasi baru layak dijalankan (go), jika rasio B/C lebih besar dari 1 (satu). Hasil analisis Rasio Gross B/C dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 3. Hasil analisis Rasio Gross B/C

Tahun Ke

Pendapatan

Biaya

Laba

Diskon Faktor

PV Biaya

PV Pendapatan

1

652.800

623.396

29.404

0,84746

528.302

553.220

2

652.800

546.396

106.404

0,71818

392.413

468.831

3

652.800

546.396

106.404

0,60863

332.553

397.314

4

652.800

546.396

106.404

0,51579

281.825

336.707

5

652.800

546.396

106.404

0,43711

238.835

285.345

1.773.928

2.041.417

Benefit Cost Ratio

1,1507892

Go

4. Internal Rate Return (IRR)

Internal Rate Return menghitung tingkat bunga pada saat arus kas sama dengan 0 (nol) atau pada saat laba (pendapatan dikurangi biaya) yang telah didiscount factor sama dengan 0 (nol). IRR ini berguna untuk mengetahui pada tingkat bunga berapa proyek investasi tetap memberikan keuntungan. Jika bunga sekarang kurang dari IRR maka proyek dapat diteruskan, sedangkan jika bunga lebih dari IRR maka proyek investasi lebih baik dihentikan.

Tabel 4. Hasil Analisis IRR Investasi “A” (Rp.000)

Tahun Ke

Pendapatan

Biaya

Laba

Diskon Faktor

PV Laba

Diskon Faktor

PV Laba

0

0

77.000

-77.000

1,00000

-77.000

1,00000

-77.000

1

652.800

546.396

106.404

0,84746

90.173

0,76923

81.849

2

652.800

546.396

106.404

0,71818

76.418

0,59172

62.961

3

652.800

546.396

106.404

0,60863

64.761

0,45517

48.431

4

652.800

546.396

106.404

0,51579

54.882

0,35013

37.255

5

652.800

546.396

106.404

0,43711

46.510

0,26933

28.658

455.020

255.744

182.154

Internal Rate of Return (IRR) = 52,75%

5. Pay Back Period (PBP)

Payback periode adalah jangka waktu yang diperlukan untuk membayar kembali (mengembalikan) semua biaya-biaya Investasi yang telah dikeluarkan dalam investasi suatu proyek.

Tabel 5. Perhitungan Hasil Pay Back Period (PBP)

Thn Ke

Invest. awal

Biaya Opr.

Pendapatan

Pendapatan Bersih

DF 18%

PV Investasi

PV Biaya

PV Benefit Net

0

77.000

-77.000

1,00000

77.000

1

546.396

652.800

106.404

0,84746

463.047

553.220

2

546.396

652.800

106.404

0,71818

392.413

468.831

3

546.396

652.800

106.404

0,60863

332.553

397.314

4

546.396

652.800

106.404

0,51579

281.825

336.707

5

546.396

652.800

106.404

0,43711

238.835

285.345

77.000

1.708.674

2.041.417

Pay Back Period

3,8592

Berdasarkan hasil perhitungan discount factor dalam tabel 5, didapat nilai payback periode sebesar 3,859 yang berarti pada tahun ke-3 bulan ke-9, semua investasi akan kembali.

6. Analisis Break Even Point (BEP)

Break even adalah Suatu keadaan dimana seluruh penerimaan (Total Revenue, TR) hanya mampu menutup seluruh pengeluaran (Total Cost, TC), atau dengan kata lain bahwa Break Even akan terjadi keadaan dimana total Revenue = Total Cost atau TR = TC

Asumsi yang digunakan adalah :

  • Harga Jual tidak berubah
  • Seluruh biaya dapat dibagi kedalam biaya tetap dan biaya variabel
  • Biaya variabel bersifat proporsional.

Tabel 6. Perhitungan Hasil Break Even Point (BEP)

Tahun

Total Cost

Pendapatan

Benefit

Diskon Faktor

TCi

PV Pendapatan

Bi

0

77.000

-77.000

1,00000

77.000

0

-77.000

1

546.396

652.800

106.404

0,84746

463.047

553.220

90.173

2

546.396

652.800

106.404

0,71818

392.413

468.831

76.418

3

546.396

652.800

106.404

0,60863

332.553

397.314

64.761

4

546.396

652.800

106.404

0,51579

281.825

336.707

54.882

5

546.396

652.800

106.404

0,43711

238.835

285.345

46.510

1.785.674

2.041.417

255.744

Break Even Point (BEP) = 4,10.

Berdasarkan hasil perhitungan discount factor dalam tabel 6, didapat nilai break even point sebesar 4,10 yang berarti pada tahun ke-4 bulan ke-1, terjadi titk pulang pokok atau TR=TC, sehingga pada tahun tersebut arus penerimaan dapat menutupi segala biaya operasional dan pemeliharaan beserta biaya modal lainnya.

7. Analisis Rate of Return on Investment (ROI)

Yaitu suatu analisis untuk mengetahui kemampuan modal yang di investasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor.

Rumus dari Rate of Return on Investment (ROI) adalah :

ROI (Pendapatan bersih/ Jumlah Investasi) x 100 %

Diketahui :

Pendapatan bersih    =     Rp. 106.404.000,-

Jumlah investasi       =     Rp. 546.396.000,-

Sehingga :

ROI (106.404.000/546.396.000) x 100 % = 19,47 %

8. Kesimpulan

Dengan investasi di usaha “A” sebesar Rp. 546,4 juta, dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp. 652,8 juta dengan tingkat keuntungan mencapai Rp. 29,4 juta. Pada tahun ke 2 investasi “A” ini diproyeksikan sudah memperoleh laba sebesar Rp. 106,4 juta. Dengan nilai IRR lebih besar tingkat dari tingkat bunga komersil 18 persen per tahun, maka IRR lebih besar dari tingkat bunga sosial. NPV kumulatif juga bernilai positif setelah proyek bejalan 5 tahun yaitu Rp 267,49 juta. Gross B/C ratio diperoleh sebesar 1,1507. Pay Back Period adalah 3,859 atau dalam 3 tahun 9 bulan 20 hari, investasi awal sudah kembali. Sedangkan BEP dicapai pada 4 tahun 1 bulan, pada harga jual Rp 3,4 juta per unit produk, dimana arus penerimaan sudah dapat menutupi segala biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya modal lainnya.

Dipublikasi di Semester II | Meninggalkan komentar

Seniman Sejati – Penghibur Hati

…Koruptor datang dan pergi dengan di benci, tetapi seniman sejati tetap tinggal di dalam hati… SELAMAT JALAN MBAH SURIP… telah kau gendong kebahagiaan untuk dibagikan kepada setiap orang.. (anakku yang baru 3 tahun sering menyanyikan lagumu dengan penuh ceria, tks).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

EVALUASI LAPORAN KEUANGAN PT. ANEKA TAMBANG TAHUN 2002 DAN 2003

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Umum

Perusahaan Perseroan (Persero) PT Aneka Tambang Tbk (“Perusahaan”) didirikan di Republik Indonesia pada tanggal 5 Juli 1968 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 1968, dengan nama “Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang”, dan diumumkan dalam Tambahan No. 36, Berita Negara No.56, tanggal 5 Juli 1968. Pada tanggal 14 September 1974, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1974, status Perusahaan diubah dari Perusahaan Negara menjadi Perusahaan Negara Perseroan Terbatas (“Perusahaan Perseroan”) dan sejak itu dikenal sebagai “Perusahaan Perseroan (Persero) Aneka Tambang”.

PT. Antam melakukan aktivitas eksplorasi, eksploitasi dan proses manufaktur hingga pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit serta pasir besi. Antam memiliki cadangan nikel dan bauksit yang termasuk terbesar di Indonesia. Antam juga memiliki jumlah cadangan emas yang cukup besar. Dalam hal aset, cadangan dan prospek masa depan, Antam dapat digolongkan sebagai suatu perusahaan tambang yang terdiversifikasi.

Perusahaan tersebut telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1997. Selanjutnya pada tahun 1999, PT. Antam mencatatkan sahamnya dengan status Foreign Exempt Listing dalam bentuk Chess Depository Interests di Bursa Efek Australia (ASX). Pada tahun 2002, status pencatatan saham perusahaan di ASX ditingkatkan sehingga tercatat secara penuh dalam ASX Listing yang memiliki peraturan dan persyaratan yang lebih ketat. Seiring dengan pelepasan saham PT. Antam ke publik, praktek keterbukaan dan transparansi perusahaan mengalami peningkatan.

1.2    Maksud dan Tujuan

Informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak, seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Melalui penulisan paper ini, selain dimaksudkan untuk mengevaluasi laporan keuangan PT. Aneka Tambang periode tahun 2002 dan 2003, juga bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari metode yang bisa dipakai untuk melakukan evaluasi tersebut.

BAB II. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT. ANEKA TAMBANG TAHUN 2002 DAN 2003

2.1. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan

Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya dilakukan karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan. Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya di masa datang.

Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu, keadaan inilah yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan. Apalagi informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak, seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

2.2. Jenis Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan biasanya terdiri dari :

  1. Neraca; yaitu laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Tujuan neraca adalah menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender (misalnya pada tanggal 31 Desember 2002)

b.  Laporan laba rugi; suatu laporan yang menunjukkan pendapatan dari penjualan, berbagai biaya, dan laba yang diperoleh oleh perusahaan selama periode tertentu.

c. Laporan saldo laba; menunjukkan perubahan laba ditahan selama periode tertentu.

d. Laporan arus kas; Menujukkan arus kas selama periode tertentu.

e. Catatan atas laporan keuangan; berisi rincian neraca dan laporan laba rugi, kebijakan akuntansi, dan lain sebagainya.

2.3. Analisa Rasio Keuangan

Analisis laporan keuangan yang banyak digunakan adalah analisis tentang rasio keuangan. Berdasarkan sumber analisis, rasio keuangan dapat dibedakan menjadi :

a.  Perbandingan Internal (Time Series Analysis) yaitu membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya.

b.  Perbandingan Eksternal (Cross Sectional Approach) yaitu membandingkan rasio-rasio antara perusahaan satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan atau membandingkannya dengan rasio rata-rata industri pada saat yang sama.

Jenis rasio laporan keuangan, biasanya dikelompokkan ke dalam lima kelompok rasio, (R. Agus Sartono, 1998), yaitu :

1)   Liquidity Ratio yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya. Liquidity Ratio yang umum digunakan antara lain :

a)    Current Ratio, merupakan alat ukur bagi kemampuan likuiditas (solvabilitas jangka pendek) yaitu kemampuan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar.

Formulasinya : Current Ratio = Current Assets / Currents Liabilities

b)   Quick Ratio, merupakan alat ukur bagi kemampuan perusahaan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid.

Formulasinya : Quick Ratio = (Currents Assets – Inventory) / Current Liabilities

2)   Activity Ratio merupakan alat ukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber daya – sumber dayanya. Rasio – rasio ini antara lain :

a)  Receivable Turn Over = Sales / Account receivable.

b)  Periode Pengumpulan Piutang (Average collection period) = 360 / Receivable turnover.

c) Inventory Turnover, yaitu rasio untuk mengukur efisiensi penggunaan persediaan atau rasio untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan untuk berputar dalam suatu periode tertentu.

Formulasinya : Inventory Turnover = Cost of Goods Sold / Average Inventory

d) Average days in inventory = 360 / Inventory turnover

e) Total Assets Turnover, yaitu rasio untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva secara keseluruhan.

Formulasinya : Total Assets Turnover = Sales / Total Assets

3)   Leverage Ratio yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio -rasio ini antara lain :

a)    Debt To Total Assets Ratio, yaitu rasio yang menghitung berapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibiayai dengan hutang.

Formulasinya : Debt To Total Assets Ratio = Total Liabilities / Total Assets

b)   Time Interest Earned Ratio, yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar keuntungan dapat berkurang (turun) tanpa mengakibatkan adanya kesulitan keuangan karena perusahaan tidak mampu membayar bunga.

Formulasinya : Time interest earned ratio:= Earning Before Interest and Tax / Interest Expense

4)  Profitability Ratio yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan dari penggunaan modalnya. Rasio ini antara lain : Gross profit margin = Gross profit / Sales

Operating profit margin = EBIT / Sales

Net profit margin = EAT / Sales

Return on assets = EAT / Total assets

Return on equity = EAT / Equity

5) Market Value Ratios;

a. Dividend payout ratio = Dividend / EAT

b. Dividend yield = Dividend per share / Price per share

c. Earning per-share = EAT / Number of share outstanding

d. Price earning ratio = Price per share / Earning per share

e. Price book value ratio = Price per share / Book value per share

2.4. Analisis Laporan Keuangan PT. Aneka Tambang

Berdasarkan laporan Keuangan PT. Aneka Tambang Tahun 2002 dan 2003, ditabulasikan data sebagai berikut :

Tabel. 2.1. Data Laporan Keuangan PT. Aneka Tambang

Tahun 2002 dan 2003 (dalam ribuan rupiah)

No.

Uraian

Tahun

2002

2003

1

2

3

4

Current Assets

1.256.790.318

2.548.841.363

Current Liabilities

428.802.552

448.718.751

Inventory

336.080.092

334.442.039

Sales

1.711.399.817

2.138.811.462

Account Receivable

152.158.896

145.737.440

Cost of Goods Sold 1.280.481.412 1.471.913.298
Average Inventory

335.261.065,5

335.261.065,5

Inventory Turnover

3,8

4,4

Total Assets

2.525.025.597

4.326.844.058

10. Total Liabilities 843.862.593 2.543.331.703
11. Earning Before Interest and Tax 247.417.071 447.983.167
12. Interest Expense

13.196.853

16.727.205

13. Gross Profit

430.918.405

666.898.164

14. Earning After Tax

177.586.270

226.715.987

15. Equity

1.675.475.974

1.783.511.688

Dari Deskripsi tersebut diatas dibuat perbandingan internal (Time Series Analysis) yaitu membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya (tahun 2002 dan 2003), dengan hasil perhitungan disajikan sebagai berikut :

Tabel. 2.2. Data Hasil Evaluasi Laporan Keuangan PT. Aneka Tambang

Tahun 2002 dan 2003

No.

Uraian

Tahun

2002

2003

1

2

3

4

1.

Liquidity Ratio

–     Current Ratio

2,930930127

5,680264882

–     Quick Ratio

2,14716592

4,934938242

2.

Activity Ratio

–     Receivable Turn Over

11,24745159

14,67578587

–     Average collection period

32,00725045

24,53020256

–     Inventory Turnover

3,819356149

4,390349639

–     Average days in inventory

94,25672442

81,99802512

–     Total Assets Turnover

0,677775235

0,494312121

3.

Leverage Ratio

–     Debt To Total Assets Ratio

0,334199619

0,58780295

–     Time Interest Earned Ratio

18,74818724

26,78171081

4.

Profitability Ratio

–     Gross profit margin

0,251792948

0,311807832

–     Operating profit margin

0,14457

0,209454258

–     Net profit margin

0,103766676

0,106000922

–     Return on assets

0,070330483

0,052397541

–     Return on equity

0,105991535

0,127117747

Tabel. 2.3. Rasio Keuangan PT. Aneka Tambang

Tahun 2002 dan 2003

No.

Uraian

Selisih antara tahun 2002 – 2003

Ket.

1

2

3

4

1.

Liquidity Ratio

–     Current Ratio

2,749334755

Naik

–     Quick Ratio

2,787772322

Naik

2.

Activity Ratio

0

–     Receivable Turn Over

3,428334274

Naik

–     Average collection period

-7,477047889

Turun

–     Inventory Turnover

0,57099349

Naik

–     Average days in inventory

-12,25869931

Turun

–     Total Assets Turnover

-0,183463114

Turun

3.

Leverage Ratio

0

–     Debt To Total Assets Ratio

0,253603331

Naik

–     Time Interest Earned Ratio

8,033523574

Naik

4.

Profitability Ratio

0

–     Gross profit margin

0,060014884

Naik

–     Operating profit margin

0,064884258

Naik

–     Net profit margin

0,002234246

Naik

–     Return on assets

-0,017932943

Turun

–     Return on equity

0,021126212

Naik

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN ; EVALUASI RASIO – RASIO KEUANGAN PT. ANEKA TAMBANG ANTARA TAHUN 2002 DAN 2003

Evaluasi terhadap hasil yang didapat dari Analisis Laporan Keuangan PT. Aneka Tambang dimaksudkan untuk membandingkan parameter yang telah di peroleh dari hasil analisis antara tahun 2002 dan 2003 tersebut. Sebagai bahan acuan  disajikan tabel indikator evaluasi sebagai berikut :

Tabel. 3.1. Daftar Indikator Evaluasi Rasio Keuangan

No.

Uraian

Asumsi Hasil Nilai Evaluasi

Indikasi (berlaku kebalikannya)

1

2

3

4

1.

Liquidity Ratio

–     Current Ratio

Naik

Membaik

–     Quick Ratio

Naik

Membaik

2.

Activity Ratio

–     Receivable Turn Over

Naik

Membaik

–     Average collection period

Naik

Memburuk

–     Inventory Turnover

Naik

Membaik

–     Average days in inventory

Naik

Memburuk

–     Total Assets Turnover

Naik

Membaik

3.

Leverage Ratio

–     Debt To Total Assets Ratio

Naik

Memburuk

–     Time Interest Earned Ratio

Naik

Membaik

4.

Profitability Ratio

–     Gross profit margin

Naik

Membaik

–     Operating profit margin

Naik

Membaik

–     Net profit margin

Naik

Membaik

–     Return on assets

Naik

Membaik

–     Return on equity

Naik

Membaik

Dengan menggunakan tabel indikator diatas, parameter yang telah didapat dari analisa pada Bab II, disajikan sebagai berikut :

Tabel. 3.2. Hasil Evaluasi Rasio Keuangan PT. Aneka Tambang

antara Tahun 2002 Dan 2003

No.

Uraian

Hasil Evaluasi

Indikasi

1

2

3

4

1.

Liquidity Ratio

–     Current Ratio

Naik (93,80%)

Membaik

–     Quick Ratio

Naik (129,83%)

Membaik

2.

Activity Ratio

–     Receivable Turn Over

Naik (30,48%)

Membaik

–     Average collection period

Turun (23,36%)

Membaik

–     Inventory Turnover

Naik (14,95%)

Membaik

–     Average days in inventory

Turun (13,01%)

Membaik

–     Total Assets Turnover

Turun (27,07%)

Memburuk

3.

Leverage Ratio

–     Debt To Total Assets Ratio

Naik (75,88%)

Memburuk

–     Time Interest Earned Ratio

Naik (42,85%)

Membaik

4.

Profitability Ratio

–     Gross profit margin

Naik (23,84%)

Membaik

–     Operating profit margin

Naik (44,88%)

Membaik

–     Net profit margin

Naik (2,15%)

Membaik

–     Return on assets

Turun (25,50%)

Memburuk

–     Return on equity

Naik (19,93%)

Membaik

Dari hasil evaluasi, secara keseluruhan kinerja keuangan PT. Aneka Tambang dari tahun 2002 ke tahun 2003 dijabarkan sebagai berikut :

–   Liquidity Ratio, yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya, membaik.

–   Activity Ratio, merupakan alat ukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber dayanya, terdiri dari beberapa indikator; Receivable Turn Over (membaik), Average collection period (membaik), Inventory Turnover / yaitu rasio untuk mengukur efisiensi penggunaan persediaan atau rasio untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam dalam persediaan untuk berputar dalam suatu periode tertentu (membaik), Average days in inventory (membaik), Total Assets Turnover / yaitu rasio untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva secara keseluruhan (memburuk).

–   Leverage Ratio, yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio -rasio ini antara lain : Debt To Total Assets Ratio, yaitu rasio yang menghitung berapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang dibiayai dengan hutang (memburuk), Time Interest Earned Ratio, yaitu rasio untuk mengukur seberapa besar keuntungan dapat berkurang (turun) tanpa mengakibatkan adanya kesulitan keuangan karena perusahaan tidak mampu membayar bunga (membaik).

–   Profitability Ratio yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan dari penggunaan modalnya. Rasio – rasio ini antara lain : Gross profit margin (membaik), Operating profit margin (membaik), Net profit margin (membaik), Return on assets (memburuk), dan Return on equity (membaik).

Dalam periode tersebut (2002-2003), bahkan hingga sekarang, kinerja Antam sangat terpengaruh oleh harga pasar internasional produk tambang dan nilai tukar Rupiah terhadap USD. Sekitar 98% pendapatan Antam diterima dalam USD, sedangkan dari total biayanya hanya sekitar 22% yang berupa USD. Dengan depresiasi Rupiah, kondisi ini sangat menguntungkan bagi Antam.

Seiring dengan krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada periode tersebut, Antam juga mengalami masalah penjarahan tambangnya terutama untuk tambang emas di Pongkor. Selain itu masalah kekerasan di Indonesia Timur juga menggangu aktivitas penambangan bijih nikel di P. Gebe. Kondisi diatas juga dipengaruhi oleh rencana Antam untuk segera memulai proyek Feronikel III.

BAB IV. KESIMPULAN

Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu, keadaan inilah yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan. Informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak, seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Secara parsial, arti penting analisis dan evaluasi laporan keuangan perusahaan bagi masing – masing pihak adalah sebagai berikut :

1.  Bagi pihak manajemen; untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi, pengembangan karier.

2.  Bagi pemegang saham; untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan, keamanan investasi.

3.  Bagi kreditor; untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta bunganya.

4.  Bagi pemerintah; berhubungan dengan pajak dan persetujuan untuk go public.

5.  Bagi karyawan; adanya kepastian jaminan penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja.

Dipublikasi di Semester II | Meninggalkan komentar

PERANAN BERBAGAI SARANA PENDUKUNG DALAM KEBERHASILAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Umum

Kegiatan pengelolaan sumber daya mineral merupakan sebuah proses panjang yang dilaksanakan dalam beberapa tahapanan. Tingkat keberhasilan suatu tahapan akan menentukan pelaksanaan tahapan berikutnya, demikian selanjutnya. Dalam kegiatan pertambangan secara keseluruhan terdapat beberapa tahapan kegiatan. Pentahapan ini disesuaikan dengan perizinan yang harus diminta dari Pemerintah, meskipun kenyataannya dilapangan pentahapan tersebut berbeda secara teknis. Tahapan kegiatan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan atau feasibility study, penyiapan Amdal, konstruksi, eksploitasi berupa penambangan dan pengolahan, transportasi dan pemasaran atau penjualan. Sedangkan secara teknis tahapan kegiatan tersebut umumnya berupa :

  1. Tahap Survei dan Penyelidikan Umum,
  2. Tahap Eksplorasi,
  3. Tahap Eksploitasi,
  4. Tahap Pengolahan.

Dengan berbagai tahapan kegiatan tersebut tentunya dibutuhkan berbagai sarana pendukung yang memadai dan sesuai dengan spesifikasi dan tujuan kegiatan. Sarana pendukung kegiatan menjadi sangat vital dalam industri pertambangan karena karakteristik dan sifat industri tersebut sangat berbeda dengan karakteristik industri pada umumnya.

1.2    Maksud dan Tujuan

Sebagaimana telah disebutkan di atas, industri mineral memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan industri lain sehingga pengembangannya juga membutuhkan penanganan yang berbeda dengan industri non mineral. Beberapa karakteristik tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Membutuhkan modal besar baik tahap eksplorasi maupun produksi,
  2. Adanya resiko investasi yang tinggi dengan tingkat keberhasilan relatif kecil,
  3. Memerlukan penggunaan teknologi maju
  4. Merupakan industri jangka panjang yang tidak bisa segera mendapatkan hasil (quick yielding)
  5. Berdampak besar terhadap lingkungan sosial dan masyarakat.

Sedangkan sifat khusus industri ini adalah umumnya dilaksanakan pada daerah terpencil (remote area) yang jauh dari jangkauan berbagai fasilitas dan infrastruktur umum. Dengan demikian pengadaan berbagai fasilitas penunjang yang belum tersedia tersebut, mutlak dilaksanakan guna mendukung keberhasilan pengelolaan sumber daya mineral. Permasalahan inilah yang dimaksudkan sebagai bahan pembahasan dalam penulisan paper ini, dengan tujuan untuk memahami sarana pendukung apa saja yang dibutuhkan sesuai dengan karakteristik dan sifat khusus industri pertambangan tersebut.

BAB II. SARANA PENDUKUNG DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

Secara teknis terdapat beberapa tahapan kegiatan dalam kegiatan pertambangan. Tahapan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi berupa penambangan dan tahapan pengolahan. Kesemua tahapan teknis tersebut membutuhkan pengadaaan berbagai sarana pendukung mengingat lokasinya yang terpencil (bersifat remote area) sehingga jauh dari jangkauan sarana dan infrastruktur. Berikut disampaikan beberapa sarana pendukung yang dibutuhkan dalam setiap tahapan pertambangan :

2.1.Tahap Survei dan Penyelidikan Umum

Tahapan ini didominasi oleh kegiatan geologi. Dalam tahap survei, pemetaan geologi merupakan dasar untuk kegiatan selanjutnya. Pemetaan geologi dibantu dengan berbagai metode dan teknologi. Salah satu teknologi yang cukup penting adalah teknologi penginderaan jauh atau remote sensing.

Teknik penginderaan jauh adalah suatu teknik merekam muka bumi dari udara atau dari ruang angkasa dengan menggunakan pesawat terbang, balon, ataupun satelit. Alat yang digunakan untuk perekaman itu pun bermacam-macam, mulai dari kamera sederhana, kamera trimetrogon (tiga kamera sekaligus), kamera multispektral, sampai kamera video (elektronik). Perekaman juga dimaksudkan untuk dapat meneliti sifat­sifat geofisika batuan yang terdapat di muka bumi. Semua survei dari udara ini dinamakan airborne surveys.

Survei geofisika dari udara ini pun dapat menyediakan data mengenai gaya berat, kemagnetan, dan radioaktivitas. Dalam kombinasi dengan survei video (Radio Beam Vidicon, RBV) dapat dihasilkan data perbedaan suhu atau thermal survey. vey. Dari data ini, jenis batuan dapat dibedakan. Tetapi, yang lebih penting dari hasil survei geofisika ini adalah keadaan di bawah permukaan tanah yang menembus puluhan sampai ratusan meter. Survei geofisika sangat tepat untuk mencari mineral atau menentukan bentuk cekungan untuk mencari minyak bumi.

Hasil-hasil survei umum dapat dipakai untuk merancang peta geologi aplikatif. Kunjungan lapangan pada tahap ini dinamakan tahap tinjau atau reconnaissance, pengenalan. Berdasarkan rancangan ini dapat dilakukan tahap selanjutnya, yaitu pemetaan geokimia. Untuk eksplorasi logam dasar, pengambilan contoh dari sungai (stream sediment sampling) biasanya memberikan indikasi perkiraan letak suatu cebakan, karena rombakan atau larutan kimia dari mineral tersebut dibawa air hujan mengalir sepanjang sungai. Pengambilan contoh tanah juga sangat penting untuk melokalisasi daerah yang mempunyai nilai yang berbeda dengan nilai rata-rata atau anomaly.

Tahap selanjutnya adalah melakukan survei geofisika di daratan. Dengan sendirinya daerahnya sudah makin diciutkan karena daerah sasaran makin tajam. Penciutan ini dalam rangka efisiensi, karena survei geofisika yang mempergunakan berbagai peralatan itu memerlukan waktu dan biaya yang relatif mahal. Penciutan terus dilakukan dan sasaran makin dipertajam, terutama pada saat memasuki tahap pengeboran yang biaya dan waktunya relatif paling mahal dibandingkan dengan tahap-tahap sebelumnya.

Dalam tahap penyelidikan umum diperkenankan mengambil contoh batuan dan menganalisisnya. Pada tahap ini belum diperkenankan pengeboran, kecuali bor tangan (hand auger) yang mampu menembus tanah beberapa meter dalamnya. Oleh sebab itu dalam tahapan ini belum banyak dibutuhkan sarana fisik pendukung kegiatan di lapangan.

2.2.Eksplorasi

Semua data yang diperoleh dari penyelidikan umum, baik melalui panca indera maupun cara modern, dikumpulkan dan diolah oleh para manajer eksplorasi, biasanya ahli geologi atau ahli tambang eksplorasi. Dari evaluasi ini kemudian disusun program pengeboran. Pada tahap ini biayanya relatif paling besar dibandingkan dengan tahap-tahap lainnya, sehingga asas efisiensi sangat penting. Di sini sangat dibutuhkan keahlian para manajer dalam merancang pengeboran dengan informasi yang sudah diperoleh.

Pengeboran dapat dibagi pula dalam beberapa tahapan. Pengeboran uji mungkin dibuat dalam jumlah terbatas, hanya untuk mengklarifikasi beberapa dugaan dan hipotesis kerja. Misalnya, pengeboran uji dalam panas bumi dilakukan untuk menguji sifat kimia uap. Program selanjutnya adalah pengeboran secara sistematik, yang dirancang untuk menghasilkan model-model komputer bagi perancangan penambangannya nanti.

Pengeboran dilakukan untuk mengambil batuan dari setiap kedalaman. Biasanya ukuran yang dipakai adalah diameter 1,5 inci atau lebih-kurang 3,5 cm, atau ukuran yang lebih besar, yaitu 2,5 inci atau lebih-kurang 6 cm. Dalam peristilahan pengeboran ukuran ini masing-masing dinamakan AX dan BX. Pengeboran untuk mengambil contoh batuan ini dinamakan pengeboran inti. Jadi, tidak hanya semata-mata membuat lubang. Batuan yang diambil atau core hares utuh. Makin utuh, makin bagus. Karena itu, diperlukan pemerian atau deskripsi tentang recovery atau jumlah inti yang terambil dengan baik yang dinyatakan dalam persentase.

Pengeboran pada eksplorasi batu bara juga hampir sama dengan pengeboran pada eksplorasi mineral logam. Bedanya, batuan yang dibor pada eksplorasi batubara lebih lunak daripada pada batuan vulkanik atau batuan beku tempat terdapatnya mineral logam. Mata bor yang dipakai juga berbeda. Untuk batuan lunak, seperti batuan sedimen, mata bor cukup dari baja (steel bit), sedangkan untuk batuan keras, mata bor dibuat dari intan (diamond bit). Tentu saja intan yang dipakai di sini adalah intan industri, yaitu intan kecil-kecil yang ditanam pada mata baja. Pengeboran batubara biasanya dangkal, yaitu 30 atau 40 meter, karena sejauh ini batubara yang ekonomis untuk ditambang adalah batubara yang letaknya tidak terlalu dalam. Pengeboran pada eksplorasi logam bisa mencapai ratusan meter, sangat tergantung pada bentuk cebakan dan sasaran yang ingin dicapai. Pengeboran minyak bumi ukurannya jauh lebih besar, kedalamannya pun bisa mencapai ratusan meter. Sejauh ini pengeboran terdalam yang pernah dilakukan dalam eksplorasi minyak bumi di Indonesia mencapai lebih dari 2 kilometer.

Inti (core) yang diperoleh dari pengeboran ini kemudian diletakkan pada kotak batuan sederhana yang terbuat dari papan atau dari aluminium. Di situ batuan disusun menurut kedalamannya. Ahli geologi (well-site geologist) dapat segera melakukan pemeriksaan atas batuan tersebut. Sesudah inti ini tersusun dengan rapi, lengkap dengan tanda-tanda kedalamannya, dilakukan pemeriksaan kasar oleh ahli geologi dengan mata telanjang atau dengan menggunakan kaca pembesar (hand Tense). Pemeriksaan kasar ini akan memberikan gambaran tentang gejala mineralisasi, taksiran besarnya mineralisasi dan keadaan batuannya, teralterasi atau segar, dan sebagainya. Data ini akan menunjang perkiraan yang dibuat sebelumnya dalam skenario pengeboran oleh manajer eksplorasi. Kemajuan setiap mata bor diikuti terus menerus. Dan pengeboran ini dapat dilakukan sekaligus, paralel beberapa unit bor. Tentu hal ini sangat tergantung pada seberapa intensif program eksplorasi itu.

Pengeboran dari satu titik dapat dilakukan ke semua arah, tegak ke bawah, miring, horizontal, bahkan miring ke atas. Air sangat diperlukan dalam pengeboran inti. Dalam pengeboran minyak, untuk membuat lubang, diperlukan lumpur pengeboran yang berat jenisnya besar, biasanya dipakai lumpur bentonit atau merek dagang `baroid’. Lumpur yang berat ini bukan saja dimaksudkan sebagai pelumas, melainkan juga untuk mengangkat potongan batuan yang dimakan mata bor ke permukaan tanah. Potongan ini dinamakan chip, ukurannya beberapa mm sampai beberapa cm, bersudut-sudut tajam.

Inti batuan yang tersusun dalam kotak dibawa ke tempat penggerusan. Di sini contoh dibelah (splitting), dan diperiksa kembali mineralisasi yang terdapat di dalamnya, lalu dilakukan pemilahan. Bila batuannya, bersih, tidak ada mineralisasi, tidak dilakukan pembelahan. Bila terdapat mineralisasi, dilakukan pembelahan. Satu belahan disimpan kembali ke dalam kotak, sedangkan belahan lainnya dibubukkan sampai ukuran beberapa cm (grinding). Hasil pembubukan dibagi dua, sebagian dimasukkan ke dalam kantong, sebagian lagi digerus (pulverizing). Hasil penggerusan berupa tepung dibagi ke dalam tiga kantong. Setiap kantong dikirim ke laboratorium yang berbeda untuk cross-chek dan untuk dokumen arsip. Semua kantong selalu diberi label kedalaman yang jelas. Dalam eksplorasi di Ertsberg Irian Jaya, hasil akhir adalah analisis laboratorium yang dikerjakan di Amerika dan Australia.

Penggerusan dan analisis kimia dilakukan di tempat yang berbeda. Penggerusan dilakukan di Timika, sedangkan analisis laboratorium dilakukan di luar Indonesia. Selain itu, pemeriksaan pertama oleh ahli geologi dilakukan di site pengeboran, yaitu di Ertsberg, lebih-kurang 50 kilometer dari Timika. Ahli geologi yang melakukan pemeriksaan pun berbeda-beds dan melakukannya secara bergiliran sambung-menyambung.

Dari uraian kegiatan eksplorasi diatas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan beberapa sarana fisik pendukung kegiatan di lapangan sudah mulai dibutuhkan meskipun masih dalam bentuk persiapan. Aktivitas pengeboran dan pemeriksaan sampel batuan harus ditunjang dengan penyediaan peralatan dan sarana pendukung yang memadai. Jalan sudah mulai dibuka agar akses masuk dan keluar lokasi pengeboran menjadi lancar dan mudah baik bagi peralatan maupun tenaga kerjanya. Bangunan – bangunan semi permanen untuk tempat tinggal pekerja dan kegiatan pemeriksaan batuan perlu dibangun lengkap dengan fasilitas umumnya terutama penyediaan sarana listrik dan air bersih. Kebutuhan akan sarana penunjang ini masih bersifat relatif tergantung pada intensitas dan luasnya lokasi pengeboran. Semakin kegiatan pengeboran menghasilkan kepastian jumlah dan lokasi cebakan, semakin banyak sarana yang harus dibangun guna mendukung pelaksanaan tahapan selanjutnya. Denah konstruksi tambang sudah mulai disusun dan sebagian sarana terutama badan jalan, dibangun sebagai persiapan masuk ke tahap eksploitasi.

2.3.Eksploitasi

Tahap eksploitasi atau penambangan merupakan tahap yang paling utama dari seluruh rangkaian kegiatan pengembangan sumberdaya mineral. Semua penyelidikan yang telah dilakukan, sejak mencari mineral sampai ditemukannya mineral tersebut, pada akhimya bermuara pada kegiatan penambangan. Dalam tahap sebelumnya, risiko untuk tidak menemukan cebakan sangatlah besar. Investasi yang ditanam bisa sama sekali tidak menghasilkan. Dalam tahap pertambangan, konsentrasi diletakkan pada teknologi penambangan yang efisien, mineral terambil dengan cara yang baik (good mining practice), tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

Secara garis besar, penambangan dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu tambang terbuka (open pit) dan tambang dalam (underground mining). Kedua penggolongan ini memberikan dampak yang berlainan, demikian pula teknologi penambangannya. Perlu ditambahkan bahwa ada juga kelompok ke-3, yaitu penambangan yang dilakukan dengan pengeboran, seperti penambangan minyak bumi, panas bumi, dan penambangan berbagai garam, yodium, dan sebagainya.

Dampak lainnya adalah buangan (tailing) hasil penggalian dan hasil pengolahan, yang bisa berbentuk zat padat, air, ataupun kimia. Dampak seperti ini dapat pula ditimbulkan oleh penambangan bawah tanah, namun lebih terkendali, karena material yang digali dari dalam terowongan juga terbatas dan penggalian dilakukan dengan selektif, yaitu hanya untuk batuan yang ekonomis. Selain itu, bisa juga dilakukan teknik menggali dan mengisi, atau dlkenal sebagai cut and fill. Pada penambangan terbuka, semua batuan diangkat dan kemudian dihancurkan, untuk selanjutnya dilakukan ekstraksi dari semua batuan yang telah dihancurkan tersebut.

Keuntungan utama penambangan terbuka adalah teknologinya yang lebih sederhana dibandingkan dengan penambangan dalam. Pada penambangan dalam, teknologi yang khusus sangat diperlukan. Selain itu, ancaman keselamatan juga sangat tinggi. Ledakan karena adanya gas di dalam pertambangan batubara sangat sering terjadi dan menimbulkan banyak korban. Runtuhnya terowongan karena kegagalan teknik, seperti yang disebabkan oleh getaran peledakan, dapat menjebak para penambang. Sementara itu, di beberapa penambangan, suhu yang tinggi sangat menyulitkan kegiatan.

Penambangan terbuka banyak dilakukan untuk batubara. Hampir semua penambangan batubara di Indonesia dilakukan dengan cara tambang tersebut, dan ini semata-mata karena pertimbangan ekonomis. Kelemahan pertambangan terbuka adalah terbatasnya kedalaman tanah yang dapat terus digali, antara lain karena masalah kestabilan lereng. Untuk menggali lebih dalam, diperlukan lubang yang besar; makin dalam menggali, makin besar lubang yang harus dibuat, sehingga tinggallah nanti lubang yang menganga. Masalah lain adalah air tanah, yang memang dapat diatasi dengan pemompaan, namun diperlukan biaya tambahan untuk melakukan kegiatan ini.

Penambangan minyak dan gas bumi, penambangan iodium di Mojokerto, dan pemanfaatan panas bumi, mempunyai ciri tersendiri. Lahan yang dipakai dalam kegiatan ini relatif sangat terbatas. Apalagi jika dilakukan di lepas pantai; praktis tidak ada lahan yang dirusak. Pada kegiatan lepas pantai ini masalah yang dihadapi adalah kegiatan para nelayan dan juga pelayaran.

Untuk tahapan eksploitasi, kebutuhan akan pembangunan sarana pendukung meningkat sangat tajam dan menjadi prioritas utama dalam persiapan kegiatan. Sarana transportasi alat, material dan manusia, berupa jalan, saluran / pipa-pipa dan sistim angkutan lainnya menjadi urat nadi kegiatan pertambangan. Sedangkan bangunan untuk keperluan kegiatan perkantoran, bengkel kerja, gudang, tempat tinggal pekerja dan sebagainya juga sudah harus disiapkan lengkap dengan fasilitas penunjangnya berupa listrik, air bersih dan sebagainya.

Semakin besar skala eksploitasi dan semakin besar target produksi yang diharapkan, semakin besar dan komplek pula sarana pendukung yang harus dibangun untuk mengamankan kelancaran produksi. Pada kondisi ini sangat dibutuhkan manajemen sarana pendukung yang mampu mengelola berbagai sarana tersebut secara efisien agar tidak menjadi beban dan kendala bagi kegiatan utama yakni aktivitas pertambangan itu sendiri. Adanya gangguan pada salah satu sarana pendukung dapat berakibat fatal terhadap kelancaran siklus produksi, yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya kerugian waktu dan finansial.

2.4.Tahapan Pengolahan

Dalam tahap pengolahan terdapat berbagai proses. Pada pertambangan batubara, prosesnya hanya terbatas pada kegiatan fisika, yaitu peremukan, penggerusan, pemilahan dan pencucian. Pada proses pencucian, batubara yang tersisa dari ayakan kemudian dicuci, diendapkan, dan dikeringkan. Sisanya, berupa kotoran dalam bentuk lumpur, ditampung dalam kolam-kolam buangan.

Proses pengolahan tambang tembaga-emas di Freeport, Irian Jaya, secara garis besar menggunakan proses fisika dan kimia, yaitu flotasi untuk mengekstraksi bijih tembaga-emas. Flotasi ini meliputi kegiatan peremukan, penggilingan, pemekatan dan pengurangan kadar air. Sisanya merupakan limbah buangan.

Untuk melakukan pengolahan, sarana utama yang diperlukan adalah instalasi pengolahan dan instalasi tenaga listrik. Kedua sarana ini harus mampu menampung dan mengolah hasil kegiatan eksploitasi agar siklus keseluruhan aktivitas pertambangan berjalan dengan lancar. Pembangunan instalasi pengolahan dapat dilakukan di dalam ataupun diluar lokasi pertambangan, tergantung pada pertimbangan teknis dan ekonomisnya. Demikian pula dengan sumber kebutuhan listriknya, dapat diadakan sendiri dengan membangun fasilitas pembangkit listrik maupun dengan memanfaatkan fasilitas listrik umum yang telah tersedia.

Pada tahapan ini penting juga diperhatikan sarana pengolah limbah yang dihasilkan. Meskipun tidak secara langsung berpengaruh terhadap siklus produksi, namun perlu dibangun agar limbah buangan tidak mencemari lingkungan.

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Industri pertambangan adalah kegiatan kompleks yang berskala luas dan membutuhkan berbagai sarana pendukung. Kegiatan tersebut merupakan suatu proses yang tersusun atas urutan tahapan yang beraneka ragam. Secara teknis umumnya tahapan – tahapan tersebut terdiri dari tahap survei dan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi dan tahapan pengolahan. Dalam setiap tahapan dibutuhkan berbagai sarana pendukung agar tujuan kegiatan tahapan tersebut dapat dicapai, sekaligus sebagai persiapan menuju ke tahapan selanjutnya.

Sarana pendukung yang dimaksud diatas meliputi sarana jalan dan alat transportasi, perkantoran, pergudangan, bengkel – bengkel, instalasi listrik dan air, instalasi pengolahan dan penampungan limbah hingga akomodasi pekerja, dan lain sebagainya yang harus dibangun dan berkembang sesuai dengan kebutuhan. Pembangunan sarana pendukung tersebut menjadi ciri khas aktivitas pertambangan mengingat sifatnya yang biasanya berlokasi pada remote are atau daerah terpencil. Dengan demikian keterbatasan prasarana dan fasilitas umum harus dapat ditanggulangi secara mandiri dengan membangun semua prasarana dan fasilitas tersebut di lokasi penambangan.

Fenomena tersebut menyebabkan perlunya manajemen sarana pendukung yang baik agar secara keseluruhan dapat berfungsi mendukung kegiatan utama berupa aktivitas pertambangan itu sendiri. Fungsi sarana pendukung dapat diibaratkan sebagai bagian dari mata rantai siklus produksi pada industri pertambangan. Jika muncul gangguan di dalam salah satu urutan mata rantai tersebut dan tidak segera diatasi, dapat berpotensi membuat seluruh rantai siklus terhenti sejenak. Kejadian ini tidak hanya mengakibatkan kerugian besar dalam biaya dan usaha perbaikan, tetapi selanjutnya menyebabkan pula kehilangan waktu dan kekurangan produksi, yang dikenal dengan istilah opportunity loss.

Rangkaian proses terpadu tersebut tidak akan dapat berjalan sendiri dengan mulus dan terus-menerus selama kegiatan produksi tanpa adanya pengawasan dan dukungan perawatan dari suatu organisasi yang selalu siap sedia saat diperlukan sepanjang proses tersebut. Kehadiran organisasi ini tidak hanya diperlukan dalam pengawasan dan perawatan, tetapi juga dalam lingkup pengadaan dan persediaan suku cadang, alat perlengkapan sampai dengan bahan – bahan teknis yang diperlukan.

Oleh karena adanya kompleksitas tersebut dan tuntutan untuk selalu menjaga siklus produksi, maka operasional sarana pendukung perlu diatur oleh suatu manejemen yang rapi, yang terdiri dari beberapa sub manajemen spesifik sesuai bidang sarana yang harus ditanganinya. Dengan demikian sarana pendukung dapat terus berfungsi sesuai peruntukannya untuk menunjang kelancaran siklus produksi, sekaligus tidak membebani manajemen pusat dan kegiatan inti dari industri pertambangan itu sendiri.

Dengan adanya klasifikasi manajemen sarana pendukung yang jelas dan spesifik, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab perusahaan menjadi lebih mudah. Untuk alasan efisiensi, sarana pendukung bahkan dapat dilimpahkan ke pihak dluar perusahaan melalui kerjasama dengan pihak lain atau dengan privatisasi. Dalam sejarah perjalanan PT. Freeport Indonesia misalnya, telah berhasil diterapkan sebuah kebijakan cemerlang yang sangat menguntungkan perusahaan. Dengan menjalin kerjasama dan melalui privatisasi terhadap berbagai sarana pendukung yang dimilikinya, PT. Freeport Indonesia berhasil mengurangi beban pengelolaan sarana pendukung dan melimpahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak lain yang lebih profesional dibidangnya, sekaligus mendapatkan laba dari hasil penjualan aset sarana – sarana tersebut.

BAB IV. KESIMPULAN

Kegiatan pengelolaan sumber daya mineral merupakan sebuah proses panjang yang dilaksanakan dalam beberapa tahapanan. Tingkat keberhasilan suatu tahapan akan menentukan pelaksanaan tahapan berikutnya, demikian selanjutnya. Secara teknis terdapat beberapa tahapan kegiatan dalam kegiatan pertambangan. Tahapan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi berupa penambangan dan tahapan pengolahan. Masing – masing tahapan membutuhkan berbagai sarana pendukung agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

Industri pertambangan umumnya dilaksanakan pada daerah terpencil (remote area) yang jauh dari jangkauan berbagai fasilitas dan infrastruktur umum. Dengan demikian pengadaan berbagai fasilitas penunjang yang belum tersedia tersebut, mutlak dilaksanakan guna mendukung keberhasilan pengelolaan sumber daya mineral.

Semakin besar skala industri dan target produksi yang diharapkan, semakin besar dan komplek pula sarana pendukung yang harus dibangun untuk mengamankan kelancaran produksi. Pada kondisi ini sangat dibutuhkan manajemen sarana pendukung yang mampu mengelola berbagai sarana tersebut secara efisien agar tidak menjadi beban dan kendala bagi kegiatan utama yakni aktivitas pertambangan itu sendiri. Adanya gangguan pada salah satu sarana pendukung dapat berakibat fatal terhadap kelancaran siklus produksi, yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya kerugian waktu dan finansial.

Dipublikasi di Semester II | Meninggalkan komentar

MENGGALI SUMBER PERMODALAN MELALUI PRIVATISASI DAN KERJASAMA / PATUNGAN

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.   Umum

Modal finansial sangat dibutuhkan dalam industri pengelolaan sumberdaya mineral. Tanpa adanya modal finansial yang memadai, sulit untuk mentransformasikan kekayaan alam yang masih terpendam di dalam perut bumi menjadi kekayaan rill yang dapat segera dimanfaatkan. Hal ini karena kegiatan pengelolaan sumberdaya mineral adalah sebuah industri dengan karakteristik yang agak berbeda dengan industri lain pada umumnya. Pengelolaan sumberdaya mineral harus dilaksanakan melalui berbagai tahapan yang membutuhkan keahlian dan teknologi yang tinggi, agar kegiatan tersebut pada akhirnya dapat bernilai ekonomis.

Selain itu, dalam pengembangan sumber daya mineral juga terdapat resiko mengenai jumlah dan kualitas cebakan yang masih harus dicari. Terdapat kemungkinan variasi jumlah dan kualitas cebakan yang sangat beragam, mulai dari tidak terdapat mineral sama sekali, sampai temuan yang sangat besar jumlahnya dengan kualitas yang sangat bagus. Karena besarnya kemungkinan keberhasilan dan juga kegagalan yang mungkin terjadi, pengembangan sumberdaya mineral sering juga dikatakan mirip sebuah pertaruhan atau perjudian. Jelas sekali resikonya tinggi, tetapi bila berhasil, keuntungannya (return of investment, ROI) akan berlipat ganda. Oleh sebab itu faktor permodalan yang kuat akan sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan tersebut.

1.2.   Maksud dan Tujuan

Penulisan paper ini dimaksudkan untuk membahas mengapa peranan permodalan yang kuat sangat dibutuhkan dalam industri pengelolaan sumberdaya mineral. Sebagaimana telah disampaikan dalam sub bab terdahulu, fenomena tersebut disebabkan karena adanya karakteristik khusus yang melekat pada industri tersebut dan faktor variasi keberadaan dan kualitas mineral yang sangat beragam. Hal ini akan diperjelas lagi pada bab selanjutnya, dengan mengulas permasalahan yang pernah dialami oleh sebuah industri pertambangan besar di Indonesia bagian Timur. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai melalui diskusi dan pembahasan dalam paper ini adalah memaparkan berbagai solusi finansial yang mungkin dapat ditempuh guna menangani permasalahan permodalan yang dihadapi industri pengelolaan sumberdaya mineral.

BAB II. PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL, SEBUAH INDUSTRI BERKARAKTERISTIK KHUSUS DENGAN SUMBER PERMODALAN YANG UNIK

2.1.   Karakteristik Industri Pengelolaan Sumberdaya Mineral

Sebagaimana telah disebutkan pada Bab sebelumnya, industri pengelolaan sumberdaya mineral memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan industri lain sehingga pengembangannya juga membutuhkan iklim yang lebih kondusif. Pengelolaan Sumberdaya Mineral melalui kegiatan pertambangan adalah sektor yang sangat kompleks karena melibatkan berbagai industri yang terintegrasi. Pengembangan sumberdaya mineral melalui kegiatan pertambangan dan industri lain yang terkait memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

  1. Membutuhkan modal besar baik pada tahap eksplorasi maupun produksi,
  2. Adanya resiko investasi yang tinggi dengan tingkat keberhasilan relatif kecil,
  3. Memerlukan penggunaan teknologi maju
  4. Merupakan industri jangka panjang yang tidak bisa segera mendapatkan hasil (quick yielding)
  5. Berdampak besar terhadap lingkungan sosial dan masyarakat.

Sumberdaya mineral karena keterbatasan jumlah dan sifatnya yang tidak dapat diperbarukan dengan sendirinya memerlukan penanganan yang berbeda dengan sumberdaya lain yang masih dapat diperbarukan. Pengembangan sumberdaya mineral sebagai sebuah industri harus melalui perencanaan yang tepat agar dapat diperoleh manfaat ekonomisnya sekaligus mencegah timbulnya permasalahan lingkungan dan dampak negatif lainnya. Oleh sebab itu dalam kegiatan pertambangan secara keseluruhan terdapat beberapa tahapan kegiatan. Pentahapan ini disesuaikan dengan perizinan yang harus diminta dari Pemerintah, meskipun kenyataannya dilapangan pentahapan tersebut berbeda secara teknis. Tahapan kegiatan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan atau feasibility study, penyiapan Amdal, konstruksi, eksploitasi berupa penambangan dan pengolahan, transportasi dan pemasaran atau penjualan. Sedangkan secara teknis tahapan kegiatan tersebut umumnya berupa :

  1. Tahap Survei dan Penyelidikan Umum,
  2. Tahap Eksplorasi,
  3. Tahap Eksploitasi,
  4. Tahap Pengolahan.

2.2.   Sumber – Sumber Permodalan

Di bidang pengembangan sumberdaya mineral, karena karakteristik dan resikonya, sumber permodalan pada umumnya tidak berasal dari bank, kecuali pada tahap yang sudah mapan dan aman dimana resiko dan peluang sudah bisa diukur. Secara ringkas, sumber permodalan digolongkan sebagai berikut :

  1. Penyertaan modal Pemerintah (umumnya kepada BUMN), bentuknya bisa bermacam – macam, mulai dari pinjaman negara lain, pinjaman dari lembaga keuangan internasional, bantuan teknik, hibah, dan lain-lain.
  2. Dana yang sengaja disisihkan dari laba perusahaan untuk pengembangan. Dana semacam ini merupakan rencana yang dianggarkan untuk pengembangan tersebut. Mineral pada suatu ketika akan habis (depleted), sehingga perlu dicari terus. Perusahaan tidak segan-segan menyisihkan sebagian labanya untuk melakukan eksplorasi.
  3. Lembaga keuangan nonbank. Lembaga ini merupakan perusahaan yang dapat mencarikan dan mengadministrasikan kredit untuk investasi tersebut. Secara umum badan atau perusahaan semacam ini dikenal pula sebagai fund arranger.
  4. Pasar modal atau bursa saham. Dengan cara ini dana untuk pengembangan pertambangan diharapkan dapat selalu tersedia, karena sumbernya lebih luas, yaitu masyarakat.

Sumber – sumber permodalan tersebut di atas pada akhirnya juga akan membentuk karakteristik industri pengembangan sumberdaya mineral tersebut. Hal ini terjadi karena pemilik modal sudah tentu memiliki hak untuk turut campur dalam menentukan kebijakan yang ditempuh oleh perusahaan tersebut.

2.3.   Privatisasi, sebuah solusi cerdas yang ditempuh oleh PT. Freeport Indonesia

Selain sebagai solusi permodalan, secara keseluruhan privatisasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. Tingkat efisiensi yang rendah bisa terjadi karena kurang sempurnanya pengawasan sebagai akibat terbatasnya kemampuan perusahaan dalam mengontrol seluruh kegiatan yang terkait. Privatisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa diantaranya yang lazim dilaksanakan berupa :

  1. Penggabungan atau merger dengan pihak swasta yang lebih mampu penampilan kinerjanya (akuisisi atau likuidasi)
  2. Kerja sama operasi atau KSO, masing – masing pihak membawa peralatan dan kemampuan untuk digabungkan.
  3. Melalui pasar modal atau penawaran umum (initial public offering, IPO). Masyarakat diberi kesempatan langsung untuk membeli saham perusahaan negara.

Privatisasi terutama terjadi karena perusahaan membutuhkan modal finansial untuk menjalankan fungsinya Dengan keterbatasan modal, pengembangan perusahaan akan sangat lambat, bahkan mungkin tidak mengalami pengembangan sama sekali (stagnasi). Dalam dunia pertambangan, stagnasi adalah memulai proses kematian. Pada PT. Freeport Indonesia, privatisasi terjadi terutama karena perusahaan memerlukan modal untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini adalah target untuk meningkatkan kapasitas produksi sejalan dengan semakin besarnya cadangan mineral yang telah ditemukan, dan adanya kebutuhan untuk melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan.

Disisi lain, sebagai sebuah industri pertambangan besar, PT. Freeport Indonesia memiliki berbagai divisi yang mengelola berbagai fasilitas pendukung kegiatan yang terus berkembang seiring dengan semakin besarnya kebutuhan perusahaan. Fasilitas – fasilitas tersebut umumnya tidak berhubungan langsung dengan kegiatan inti perusahaan di bidang pertambangan, namun juga sangat berperan dalam mempengaruhi kelancaran kegiatan produksi, terlebih karena kondisi geografis PT. Freeport Indonesia. Karena lokasinya yang terpencil, perusahaan mau tak mau harus membangun sendiri diivisi – divisi yang menangani bermacam fasilitas guna memenuhi kebutuhan perusahaan dan karyawannya. Berbagai divisi tersebut antara lain berperan dalam penanganan akomodasi, transportasi, logistik, kelistrikan dan pelayanan kesehatan.

Pengelolaan berbagai fasilitas tersebut pada akhirnya menjadi kontraproduktif jika kesemuanya harus ditangani langsung oleh PT. Freeport Indonesia, terutama fasilitas yang tidak berkaitan langsung dengan bisnis inti. Oleh karena itu diputuskan untuk melepaskan semua urusan yang bukan termasuk ke dalam core business kepada pihak lain melalui proses privatisasi. Dengan langkah ini sekaligus diperoleh keuntungan berlipat bagi perusahaan, yakni masuknya dana segar, lepasnya tanggung jawab perusahaan dan semakin profesionalnya penanganan bidang – bidang yang diprivatisasikan tersebut karena telah diambil alih oleh investor yang memang ahli dibidangnya.

Disamping privatisasi, PT. Freeport Indonesia juga mencari jalan lain untuk mendapatkan dana yang dibutuhkannya. Salah satunya melalui kerjasama dengan perusahaan pertambangan lain yang lebih mapan dengan model patungan untuk membiayai kebutuhan eksplorasi, eksploitasi dan industri pengolahannya. Dengan cara kerjasama tersebut perusahaan dapat terus berkembang dan tumbuh semakin besar tanpa semata – mata harus mengandalkan dukungan perbankan atau melepas saham seperti yang dilakukan sebelumnya.

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN, PRIVATISASI BAGI PERUSAHAAN NEGARA DENGAN MENCONTOH KASUS PT. FREEPORT INDONESIA, SEBAGAI USAHA EFISIENSI DAN PENCARIAN MODAL

Dari ulasan permasalahan permodalan pada Bab II, terlihat bahwa permodalan mempunyai pengaruh sangat penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan sumberdaya mineral. Keberhasilan yang diraih PT. Freeport Indonesia tak terlepas dari upaya privatisasi yang didasarkan pada konsep efisiensi. Melalui privatisasi dan kerjasama patungan, perusahaan mendapatkan dana segar sebagai modal bagi kelangsungan dan pengembangan usaha sekaligus keuntungan teknis dan strategis karena beban tanggung jawab telah beralih kepihak investor yang lebih profesional dibidangnya.

Permasalahan permodalan seperti yang dikemukakan tersebut pada prinsipnya juga terjadi pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Melalui privatisasi BUMN, selain sebagai solusi permodalan, secara keseluruhan juga dapat ditujukan guna meningkatkan efisiensi. Tingkat efisiensi yang rendah bisa terjadi karena kurang sempurnanya pengawasan, dengan istilah lain, kurangnya transparansi. Mekanisme transparansi yang paling ampuh adalah kontrol sosial, yaitu publik yang melakukan pengawasan secara langsung. Untuk melibatkan publik, mereka harus mempunyai kepentingan, yakni jika mereka ikut memiliki perusahaan itu.

Privatisasi pada BUMN terjadi terutama karena negara memerlukan uang untuk menjalankan fungsinya. Dengan keterbatasan modal, pengembangan BUMN akan sangat lambat, bahkan mungkin tidak mengalami pengembangan sama sekali (stagnasi). Karena itu, cepat atau lambat banyak perusahaan yang dikelola negara akan mengalami kematian jika tidak dapat menemukan solusi permodalan yang tepat.

Privatisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagaimana yang telah ditempuh dengan sangat gemilang oleh PT. Freeport Indonesia. Namun khusus bagi BUMN, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa sumber permodalan umumnya membentuk kecendrungan orientasi suatu industri. Ini terjadi karena adanya peran pemilik modal dalam menentukan kebijakan yang ditempuh oleh perusahaan. Dalam industri sumberdaya mineral terutama yang bersifat strategis dan vital, kondisi tersebut dapat bertentangan dengan status negara sebagai penguasa sumberdaya mineral.

Jika peranan pemilik modal lebih diutamakan, maka prioritas utama yang dituju adalah peningkatan profit bagi pemilik modal. Sedangkan fungsi negara sebagai penguasa sumberdaya mineral tersebut adalah untuk memanfaatkannya bagi sebesar – besar kemakmuran rakyat. Kedua kepentingan tersebut saling bertolak belakang. Oleh sebab itu Pemerintah wajib mengambil peranan yang lebih besar dalam pengelolaan sumberdaya mineral. Namun karena keterbatasan kemampuan dalam pengelolaan secara langsung, peranan tersebut bisa diwujudkan melalui pengaturan atau kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat banyak. Perancangan perundang – undangan yang mengatur masalah tersebut harus disusun dengan teliti agar menjadi formula kebijakan yang paling tepat, mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan dan tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Privatisasi BUMN, khususnya yang bergerak dibidang pengelolaan sumberdaya mineral, niscaya dapat berjalan dengan baik dan memenuhi rasa keadilan rakyat banyak, jika terlebih dulu dibuat kebijakan yang tepat agar kepentingan rakyat tetap diutamakan.

BAB IV. KESIMPULAN

Tanpa adanya modal finansial yang memadai, sulit untuk mentransformasikan kekayaan alam yang masih terpendam di dalam perut bumi menjadi kekayaan rill yang dapat segera dimanfaatkan. Hal ini karena kegiatan pengelolaan sumberdaya mineral adalah sebuah industri dengan karakteristik yang agak berbeda dengan industri lain pada umumnya.

Selain sebagai solusi permodalan, secara keseluruhan privatisasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. Tingkat efisiensi yang rendah bisa terjadi karena kurang sempurnanya pengawasan sebagai akibat terbatasnya kemampuan perusahaan dalam mengontrol seluruh kegiatan yang terkait. Pada kasus PT. Freeport Indonesia, privatisasi terjadi terutama karena perusahaan memerlukan modal yang sangat besar untuk mencapai tujuannya ekonomisnya.

Disamping privatisasi, jalan lain untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan adalah melalui kerjasama dengan perusahaan pertambangan lain yang lebih mapan dengan model patungan. Dengan cara kerjasama tersebut perusahaan dapat terus berkembang dan tumbuh semakin besar tanpa semata – mata harus mengandalkan dukungan perbankan atau melepas saham seperti yang biasa dilakukan sebelumnya. Khusus bagi BUMN, pertimbangan privatisasi selain ditujukan bagi efisiensi dan manfaat ekonomi, juga harus berlandaskan pada kepentingan pelayanan publik.

Dipublikasi di Semester II | Meninggalkan komentar

PENTINGNYA KETERAMPILAN MANAJERIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.   Umum

Selain modal finansial, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dibutuhkan dalam mengelola sumberdaya mineral. Tanpa iptek yang cukup, sulit untuk mengubah kekayaan yang terpendam di dalam perut bumi menjadi kekayaan rill yang dapat dimanfaatkan. Peran manusia sebagai penghasil dan pengelola iptek tersebut menjadi faktor yang sangat menentukan tingkat keberhasilan pengembangan sumberdaya mineral. Secara lebih spesifik, keberhasilan pengembangan sumberdaya mineral sangat tergantung pada kemampuan sumberdaya manusianya.

Pengembangan sumber daya mineral memiliki resiko kegagalan yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena adanya variasi jumlah dan kualitas cebakan, mulai dari tidak terdapat mineral sama sekali, sampai temuan yang sangat besar jumlahnya dengan kualitas yang sangat bagus. Oleh karena adanya resiko dan peluang tersebut, pengembangan sumberdaya mineral sangat mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dapat memperkecil resiko dan memperbesar peluang keberhasilannya.

Kemampuan lainnya yang sangat vital adalah keahlian manajerial dalam mengatur strategi dan menetapkan langkah yang akan ditempuh. Keahlian manajerial berperan dalam meminimalkan resiko dan memanfaatkan setiap peluang yang ada menjadi keunggulan dalam pengelolaan sumberdaya mineral.

1.2.   Maksud dan Tujuan

Manajemen sebagai inti setiap organisasi pengelola sumberdaya mineral perlu memposisikan diri dengan tepat untuk dapat menghadapi setiap tantangan dan permasalahan yang muncul dibidang tersebut. Terutama pada saat ini dimana era globalisai telah tiba dengan sistem pasar bebas dan isu – isu lingkungan serta hak asasi manusia yang didengungkannya.

Mengingat pentingnya peranan keterampilan manajerial dalam kegiatan pengembangan sumberdaya mineral, fenomena tersebut diangkat sebagai topik diskusi dan pembahasan dalam paper ini. Maksud pembahasan adalah untuk lebih memahami peranan keterampilan manajerial dalam menentukan keberhasilan perusahaan pertambangan, dengan tujuan menemukan upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan manajerial tersebut.

BAB II. PENTINGNYA KETERAMPILAN MANAJERIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL

Sejarah kehidupan pertambangan di Indonesia masih relatif muda. Karena itu dunia pertambangan bagi bangsa Indonesia merupakan hal baru dan bangsa kita belum mempunyai tradisi kuat dalam kegiatan ini. Demikian halnya dalam bidang manajemen sumberdaya mineral, yang selain didapat dari pendidikan akademik, sebagian besar diperoleh berdasar pengalaman dan kondisi yang terjadi di lapangan.

Dalam manajemen sumberdaya mineral, sumberdaya manusia yang diperlukan dapat digolongkan dalam empat bidang, yaitu pengaturan, industri, penelitian-pengembangan, dan internasional. Bidang pengaturan dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam bentuk organisasi Departemen, Kantor Wilayah, dan Dinas. Bidang industri dilaksanakan oleh pelaku industri pertambangan, baik BUMN, swasta, koperasi maupun perorangan. Pada semua bidang diatas diperlukan hampir semua jenis dan tingkat keahlian manajerial.

Karena globalisasi sudah merupakan norma yang dianut dunia internasional, penyiapan sumberdaya manusia kini menjadi lebih penting lagi. Semua negara yang ingin bergaul secara internasional harus membuka pintunya lebar-lebar. Tidak boleh ada hambatan, tarif, atau persyaratan lain. Kemampuan manajerial sebagai inti dari kegiatan organisasi sangat berperan dalam menghadapi dan mengambil sikap terhadap semua kecendrungan tersebut.

Pemerintah selama ini telah berupaya mendorong peningkatan sumberdaya manusia di bidang pengembangan mineral dengan menetapkan berbagai kebijakan. Diantaranya adalah kewajiban bagi para kontraktor asing untuk melakukan proses Indonesiasi, yaitu secara berencana dan bertahap tenaga kerja di perusahaan tersebut diserahkan kepada bangsa Indonesia. Cakupan jenis pekerjaannya mulai dari yang paling bawah sampai jabatan puncak. Hal ini sudah banyak dilaksanakan pada beberapa perusahaan.

Pemerintah juga menetapkan program yang terencana untuk mendidik orang di bidang keahlian tertentu. Setiap ahli yang didatangkan dari luar negeri diwajibkan menyetor sejumlah uang yang disebut Iuran Wajib Pendidikan dan Latihan (IWPL). Dana yang dikumpulkan dari IWPL ini kemudian dipakai untuk penyelenggaraan berbagai kursus atau peningkatan keahlian, termasuk keahlian formal yang harus dipelajari di perguruan tinggi. Karena itulah dana tersebut sebagian disalurkan ke perguruan tinggi yang ada kaitannya dengan pengembangan sumberdaya mineral. Bila tenaga di bidang keahlian tersebut sudah cukup tersedia di dalam negeri, tidak diperkenankan lagi mendatangkannya dari luar negeri.

Posisi yang sulit untuk dipenuhi oleh tenaga Indonesia adalah posisi manajer, karena pendidikan untuk kedudukan tersebut tidak dapat dilaksanakan di dalam ruangan kelas. Perusahaan terkadang menetapkan persyaratan yang sulit dipenuhi, misalnya harus pernah bekerja di luar negeri pada perusahaan yang bergerak di bidang yang sama.

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Kualitas manajemen memiliki peranan signifikan terhadap keberhasilan pengembangan sumberdaya mineral. Agar peluang keberhasilan tersebut semakin membesar, maka program peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia dibidang manajemen masih harus terus dilaksanakan. Terlebih dengan datangnya era globalisasi, tantangan tersebut bertambah menjadi permasalahan tersendiri yakni bagaimana agar kemampuan manajerial tenaga kerja Indonesia tidak tersisihkan oleh tenaga kerja dari bangsa lain. Selain itu, isu – isu lingkungan dan hak asasi manusia juga harus dapat ditangani dengan pendekatan manajemen yang lebih baik. Teknik berkomunikasi yang efektif termasuk salah satu unsur dari metode pendekatan tersebut. Dengan adanya saling kesepahaman antara pelaku industri dan komunitas masyarakat disekitarnya, potensi konflik niscaya bisa diredam bahkan dihilangkan.

Kepemilikan sumberdaya mineral sudah sewajibnya diimbangi dengan kemampuan manajerial, agar kepemilikan tersebut dapat dijadikan sebuah keunggulan. Kemampuan manajerial menjadi sangat penting, karena dengan kemampuan itu bahkan dapat dilakukan berbagai strategi untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan negara. Terlebih jika mengingat peranan strategis sumberdaya mineral bagi dunia serta pengaruhnya dalam hubungan internasional.

Selama ini kemampuan manajerial cenderung didapat melalui pengalaman dilapangan dibandingkan dari pendidikan akademik, oleh sebab itu Pemerintah dan institusi pendidikan yang terkait berkewajiban menyediakan jalan pintas guna memenuhi kebutuhan peningkatan kemampuan manajerial tersebut. Langkah praktis yang dapat ditempuh diantaranya melalui pelatihan khusus tentang manajemen perusahaan pengelola sumberdaya mineral, dengan strategi menciptakan standarisasi dan sertifikasi berdasar kompetensi internasional. Dengan demikian diharapkan kebutuhan akan manajer yang berkualitas dapat segera terpenuhi oleh sumberdaya manusia dari bangsa kita sendiri.

BAB IV. KESIMPULAN

Peran kemampuan manajerial sebagai penentu kebijakan menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan pengembangan sumberdaya mineral, selain faktor modal keuangan. Hal ini karena melalui kebijakan yang paling tepat, sebuah organisasi dapat meminimalkan resiko dan memanfaatkan setiap peluang yang ada menjadi keunggulan dalam pengelolaan sumberdaya mineral.

Selain dalam permasalahan teknis, kemampuan memanajemen sumberdaya mineral penting dikuasai oleh para penentu kebijakan sebagai landasan dalam mengatur strategi dan menetapkan langkah selanjutnya. Meskipun telah ada upaya Pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dibidang ini, namun masih banyak ketertinggalan yang masih harus dibenahi. Kekurangan ini nampak antara lain ketika sebagai salah satu negara penghasil sumberdaya energi, Indonesia juga mengalami krisis energi sebagai akibat manajemen yang keliru.

Hal lain yang juga sering terjadi berkenaan dengan lemahnya kemampuan manajerial adalah timbulnya konflik isu – isu lingkungan dan hak asasi manusia. Kegiatan penambangan sering dianggap sebagai aktifitas pengrusakan lingkungan dan merugikan masyarakat disekitarnya. Permasalahan tersebut sebenarnya sudah dapat diprediksi dan diantisipasi melalui suatu konsep pemahaman manajemen perusahaan yang menyeluruh. Kepemilikan sumberdaya mineral harus diimbangi dengan manajemen pengelolaan yang tepat, agar proses pemanfaatan sumberdaya tersebut bisa berjalan lancar dan mencapai tujuan yang telah ditargetkan.

Dipublikasi di Semester II | Meninggalkan komentar