Misteri Banjir Besar Tahun 2005

Banjir dimaksud adalah peristiwa banjir di DAS Barito yang melanda kota Muara Teweh ibukota Kabupaten Barito Utara dalam bulan April 2005. Mengapa dibubuhi judul misteri? Apakah fenomena banjir tersebut sedemikian misteriusnya?… mungkin dan bisa jadi. Namun yang jelas sampai saat ini penulis belum bisa menemukan literatur penelitian yang bisa menjelaskan  dengan tepat penyebab pasti terjadinya peristiwa tersebut. Jawaban instan yang yang sering kita amini adalah adanya faktor siklus puluhan tahun. Sebagai alternatif praktis dan termudah, jawaban instan demikian adalah hipotesis yang cenderung menyudutkan alam sebagai sumber penyebab. Tetapi sebaliknya, sekedar menduga fenomena tersebut berkorelasi dengan faktor kerusakan DAS sebagai akibat eksploitasi sumberdaya yang berlebihan juga harus dibuktikan secara ilmiah. Mengapa? mari kita bahas lebih lanjut.

Banjir sebenarnya merupakan hal yang lumrah dan terjadi secara musiman disepanjang DAS Barito, terutama jika berlangsung curah hujan yang tinggi dimusim penghujan pada bagian hulu sungai. Siklus banjir tersebut biasanya terjadi sekali dalam setahun dan berlangsung hanya dalam hitungan hari. Wilayah yang terendam banjir adalah dataran rendah di sekitar wilayah DAS. Meskipun banjir terkadang berdampak negatif terutama terhadap sektor pertanian dan perikanan, namun pengaruhnya terhadap aktivitas warga tidak terlalu signifikan (kecuali bagi kakawalan yang hobi maunjun), sehingga dapat dikategorikan hanya sebagai bencana ringan. Bahkan di Muara Teweh, kedatangan banjir sering kali dijadikan sebagai sarana rekreasi air bagi sebagian warga. Namun pada bulan April tahun 2005, terjadi banjir paling besar sepanjang pengetahuan penulis dalam sejarah banjir di Kabupaten Barito Utara.

Banjir skala besar yang sebelumnya tidak pernah terjadi, pada tahun itu melanda bagian hulu dari Sungai Barito dan merendam Kabupaten Murung Raya, Barito Utara dan Barito Selatan. Penduduk di 3 kabupaten tersebut terancam terisolasi karena jalur distribusi berbagai barang kebutuhan melalui sungai dan terutama darat, terputus karena tingginya genangan air. Di beberapa lokasi ketinggian air mencapai 3-5 meter sehingga menggenangi rumah, jalan raya, dan ladang-ladang penduduk. Berbagai aktivitas dan sumber pendapatan utama warga menjadi lumpuh dan rusak karena banjir.

Kebanyakan warga asli kota Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara, berpendapat bahwa sepanjang hidupnya baru kali itu mengalami peristiwa banjir besar tersebut. Semua anak Sungai Barito meluap, rata-rata ketinggian air mencapai 3,5 meter (biasanya maksimal hanya berkisar 2 meter) menyebabkan rumah-rumah terendam rata dengan Sungai Barito. Semua pusat perdagangan di kota tersebut lumpuh total, karena letaknya yang berada di tepian sungai. Kegiatan perekonomian dan angkutan antar provinsi juga berhenti karena jalan darat terputus. Hal ini dikarenakan pada waktu itu satu-satunya jalan darat yang menghubungkan kabupaten Barito Utara dengan Palangkaraya – ibu kota Kalteng, harus melalui Provinsi Kalimantan Selatan. Sementara sebagian kabupaten-kabupaten di Provinsi Kalsel juga sedikit terendam akibat limpasan air dari DAS di Kalteng. Banjir tersebut pada akhirnya dinyatakan Pemkab Barito Utara sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Barito Utara (http://digilib-ampl.net). Pada tahun 1957 juga pernah terjadi banjir besar, tetapi tingkat keparahannya tidak seperti tahun itu.

Faktor-Faktor Umum Penyebab Banjir

Peristiwa banjir dalam suatu wilayah DAS umumnya terjadi akibat fenomena iklim, yaitu adanya distribusi curah hujan yang berlangsung dalam waktu yang singkat dengan intensitas tinggi. Secara umum penyebab banjir dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu: masukan (hujan) dan sistem DAS. Masukan (hujan) meliputi faktor intensitas, lama dan distribusi hujan, sedangkan sistem DAS meliputi faktor topografi, jenis tanah, penggunaan lahan dan sistem transfer hujan dalam DAS. Tingginya frekuensi hujan dengan jumlah yang besar dalam waktu relatif singkat di musim penghujan, disertai perubahan penggunaan lahan menuju makin luasnya pemukaan kedap (impermeable) menyebabkan hanya sebagian kecil curah hujan yang dapat diserap dan ditampung oleh tanah melalui intersepsi maupun infiltrasi sebagai cadangan air dimusim kemarau (Irianto, et all., 2003). Dampaknya air hujan yang di transfer menjadi aliran permukaan meningkat, sehingga terjadi banjir dengan besaran (magnitude) yang makin meningkat. Kondisi ini akan diperburuk apabila periode tanah sudah dalam keadaan jenuh akibat hujan sebelumnya. Banjir terjadi saat debit aliran sungai menjadi sangat tinggi, sehingga melampaui kapasitas daya tampung sungai. Akibatnya bagian air yang tidak tertampung melimpas melampaui badan/bibir/tanggul sungai dan pada akhirnya akan menggenangi daerah sekitar aliran yang lebih rendah (Sawiyo, 2005 dalam http://balitklimat.litbang.deptan.go.id).

Sudah selayaknya jika faktor penyebab banjir tersebut di atas menjadi pangkal penelitian dalam upaya menjawab secara ilmiah penyebab terjadinya banjir besar di Kabupaten Barito Utara pada tahun 2005. Untuk itu selain mengetahui sistem dan kondisi DAS Barito, juga perlu ditelusuri kembali karakteristik curah hujan pada masa tersebut. Demikian juga hubungannya dengan faktor fisiografi / topografi dan geologi kewilayahannya. Kemudian tak kalah penting untuk dipertimbangkan adalah faktor siklus puluhan tahun yang meliputi faktor yang lebih luas dan kompleks misal adanya kesamaan perubahan iklim yang berlangsung pada dua peristiwa itu. Sebagaimana telah disampaikan diatas, banjir serupa pernah terjadi pada tahun 1957 di Kabupaten Barito Utara.

Fisiografi/Topografi dan Geologi Kabupaten Barito Utara

Secara Fisiografi wilayah Kabupaten Barito Utara dapat dibedakan atas Jalur Aliran Sungai, Daratan Aluvial (Alluvial valley), Patahan (bergelombang) dan Lipatan. Berdasarkan peta Geologi dari Direktorat Geologi 1969, sebagian besar formasi wilayah Kabupaten Barito Utara terdiri dari formasi geologi yang tergolong tua, kecuali daerah endapan aluvium (kwarter) di bagian selatan. Kabupaten Barito Utara dan Barito Selatan umumnya termasuk kedalam pinggiran Cekungan Barito bagian Utara yang terbentuk pada Awal Tersier yang berbatasan dengan Cekungan Hulu Mahakam dan Cekungan Kutai. Batuan didalam Cekungan Barito dikelompokan menjadi beberapa formasi batuan. Sebagai dasar cekungan adalah batuan berumur Pra Tersier yang terdiri dari batuan beku, batuan metamorf dan batuan meta sedimen.

Tidak terdapat kegiatan tektonik terlebih vulkanik aktif di daerah ini (bahkan diseluruh pulau Kalimantan) sehingga kondisi kewilayahan relatif sangat stabil dan kondusif bagi berbagai peruntukan. Kecuali pernah sekali dua gempa sangat kecil yang dulu pernah penulis rasakan di kota Muara Teweh (adakah rekan yang masih ingat?), tidak ada potensi bencana lainnya yang berasal dari akitivitas tektonik/vulkanik. Dengan kondisi demikian maka kemungkinan  adanya peran pergeseran tektonik dalam banjir besar tahun 2005 dapat dikesampingkan. Dalam teorinya; aktivitas tektonik dapat mengubah struktur dasar sungai, yang kemudian mempengaruhi debit limpasan sungai. Jika struktur dasar sungai terangkat naik akibat pergerakan tektonik, terjadilah pemindahan volume air yang apabila telah melewati bibir sungai (meluap) kita sebut sebagai peristiwa banjir.

Kabupaten Barito Utara dari sebelah selatan ke timur merupakan dataran agak rendah, sedangkan ke arah utara adalah daerah berbukit-bukit lipatan dan patahan yang dijajari oleh pegunungan Muller/Schwaner. Bagian wilayah dengan kelerengan 0-20 terletak di bagian selatan tepi Sungai Barito, yaitu di Kecamatan Montallat dan Teweh Tengah seluas 166 Km2 (2%). Bagian wilayah dengan kemiringan 2-150 tersebar di semua kecamatan seluas 1.785 Km2 (21,5%). Bagian wilayah dengan 15-400 tersebar di semua kecamatan seluas 4.275 Km2 (51,5%) dan bagian wilayah dengan kemiringan di atas 400 seluas 2.075 Km2 (25%). Berdasar faktor kemiringan lereng tersebut, jika terjadi luapan banjir maka air tentu akan menggenangi wilayah yang kelerengannya rendah, lebih lama dan luas dibanding wilayah lain yang tingkat kemiringan lerengnya lebih tinggi.

Sistem DAS Barito dan Karakteristiknya

Terdapat beberapa sungai besar di Kalimantan, yang secara harfiah memiliki arti “pulau yang memiliki sungai-sungai besar” (kali = ‘Sungai’; mantan = ‘besar’) (Riwut, 1993:3) yakni Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Mahakam dan Sungai Barito. Sungai Barito bermuara pada laut Jawa, sedangkan hulunya berada di kaki pegunungan Muller di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Dari kaki pegunungan Muller hingga mencapai muara laut Jawa, panjang Sungai Barito mencapai 900 km, dengan lebar antara 650 m hingga mencapai 1000 m. Di daerah hulu Sungai Barito wilayah Kabupaten Murung Raya terdapat beberapa anak Sungai Barito yang dapat dilayari seperti : Sungai Laung panjang 35,75 km, Sungai Babuat panjang 29,25 km, Sungai Joloi panjang 40,75 km, dan Sungai Busang panjang 75,25 km. Kedalaman dasar berkisar antara 3-8 m dan lebar badan sungai lebih dari 25 m (lihat http://www.kabmurungraya.go.id).

Di wilayah kabupaten Barito Utara, anak Sungai Barito adalah Sungai Montalat dengan panjang 11,25 km,  Sungai Teweh panjang 87,50 km dan Sungai Lahei panjang 77, 50 km (http://www.baritoutarakab.go.id/selayang-pandang/sarana-dan-prasarana/). Di Kabupaten Barito Selatan terdapat 11 anak Sungai Barito yaitu: Sungai Jenamas panjang 3 km, Sungai Kelanis/Napu panjang 165 km, Sungai Mangkatip 160 km, Sungai Karau/Bangkuang panjang 120 km, Sungai Puning panjang 50 km, Sungai Ayuh panjang 100 km, Sungai Bamanen/Bundar panjang 20 km, Sungai Tabuk/Buntok kota panjang 20 km, Sungai Telang panjang 10 km, Sungai Janggi panjang 10 km, Sungai Bahaur panjang 50 km (lihat http://www.baritoutarakab.go.id).

Di antara perbatasan kabupaten Barito Selatan dan kabupaten Barito Kuala, terdapat anak Sungai Barito yang masuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara yakni Sungai Paminggir, menghubungkan ke Danau Panggang di kabupaten Hulu Sungai Utara. Di Kabupaten Barito Kuala sendiri terdapat beberapa anak Sungai Barito, yakni: Sungai Ulak panjang 30.2 km, Sungai Seluang panjang 38 km, Sungai Belawang panjang 38.6 km, Sungai Pelingkau panjang 38.7 km, Sungai Sabrang panjang 39.8 km, Sungai Belandean panjang 46.7 km (lihat http://travelingluck.com/Asia/Indonesia/Kalimantan+Selatan…).

Di kabupaten Barito Kuala juga terdapat cabang Sungai Barito yakni Sungai Kapuas Murung yang menghubungkan ke kabupaten Kuala Kapuas Kalimantan Tengah. Sungai Barito memiliki dua anak Sungai yang besar yaitu Sungai Bahan atau Nagara dan Sungai Martapura. Sungai Nagara memiliki beberapa cabang Sungai yakni Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit dan Amas, tempat bermukim sebagian besar penduduk Kalsel. Kota penting di wilayah tersebut antara lain Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan, Rantau dan Negara yang berada di daerah kaki pegunungan Meratus, kota-kota ini disebut dengan istilah Hulu Sungai. Adapun Sungai Martapura melewati kota Banjarmasin dan Martapura.  Selain anak Sungai dan cabang Sungai Barito, di Kabupaten Barito Kuala terdapat tiga buah kanal buatan yang disebut Anjir untuk menghubungkan Sungai Barito dengan Sungai Kapuas, yakni Anjir Talaran, Anjir Serapat dan Anjir Tamban (Aditjondro, 2003: 28, dan Levang, 2003:175).

Jumlah anak Sungai Barito di atas belum sepenuhnya lengkap, tapi cukup menjadi bukti yang menunjukkan posisi penting Sungai Barito sebagai muara anak Sungai yang bagian hulunya berasal dari dua dataran tinggi, yakni pegunungan Muller di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, serta Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Dengan demikian, Sungai Barito adalah induk dari anak-anak sungai yang berada di berbagai kota kabupaten di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (baritobasin, 2008).

Dengan adanya hubungan yang kompleks antar berbagai DAS tersebut, maka semakin banyak faktor yang dapat berkontribusi dalam setiap peristiwa banjir di Kabupaten Barito Utara. Demikian pula dengan fenomena banjir besar tahun 2005, tak bisa dipungkiri merupakan produk kondisi berbagai DAS baik besar maupun kecil yang sesungguhnya saling terintegrasi. Dengan mencermati kompleksitas sistem DAS Barito, fisiografi/topografi  dan kondisinya dari waktu ke waktu, maka dapat disimpulkan bahwa Sungai Barito yang berhulu di wilayah Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalteng, dan bermuara di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalsel mempunyai karakteristik yang cenderung menyebabkan rawan banjir. Daerah tangkapan air Sungai Barito baik di bagian tengah (Kab. Barito Utara) maupun di Hulu (Kab. Murung Raya) kini telah mengalami perubahan penggunaan lahan dari lahan hutan menuju ke lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan. Sementara itu di bagian Hilir (Kab. Barito Kuala) telah lama berlangsung sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan sungai, sehingga memperkecil daya tampung sungai. Dengan demikian maka daerah aliran sungai Barito menjadi sangat rawan terhadap banjir.

Adakah yang Sudah Bisa Menjawab?

Berdasar tinjauan singkat diatas, maka fenomena banjir besar tahun 2005 nampaknya hanya bisa dihubungkan dengan intensitas curah hujan pada waktu itu dan fakta bahwa telah terjadi banyak perubahan rona lingkungan dan peruntukan lahan di wilayah DAS Barito. Namun kesimpulan ini perlu dikaji ulang karena setelah tahun 2005 sampai sekarang, tipikal banjir seperti itu belum pernah terulang lagi, kecuali beberapa banjir musiman dengan ketinggian, luas dan lama genangan serta dampak yang lebih kecil. Selanjutnya yang perlu diingat adalah fakta bahwa banjir dengan karakteristk serupa pernah terjadi juga pada tahun 1957. Bagaimanakah kondisi DAS Barito pada masa itu? Mengapa baru terulang kembali setelah 48 tahun? Apakah merupakan pengulangan (siklus) yang cenderung dipengaruhi oleh iklim? Jika merupakan siklus, akankah terjadi perubahan siklus seiring dengan kondisi DAS saat ini? Berapa tahun lagi akan terulang? Mungkinkah akan lebih besar dari banjir pada siklus sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Studi/penelitian tentang peristiwa ini niscaya akan menghasilkan jawaban yang sangat berharga baik dalam upaya mengantisipasi dampak kebencanaannya, maupun sebagai sumbangan keilmuan guna menemukan solusi holistik yang dapat mereduksi faktor penunjang terjadinya banjir besar tersebut (juga bahan potensial dalam penyusunan skripsi & tesis). Adakah yang berminat meneliti lebih lanjut atau sudah ada yang bisa menjawabnya dengan tepat? Andakah orangnya? Salam ilmiah dari urang tewe.

Tentang antoniuspatianom

PNS Pemkab. Barito Utara, saat ini tengah menyelesaikan study magister pengembangan kewilayahan pertambangan di Unpad Bandung.
Pos ini dipublikasikan di Ini Opiniku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s