PERANAN BERBAGAI SARANA PENDUKUNG DALAM KEBERHASILAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Umum

Kegiatan pengelolaan sumber daya mineral merupakan sebuah proses panjang yang dilaksanakan dalam beberapa tahapanan. Tingkat keberhasilan suatu tahapan akan menentukan pelaksanaan tahapan berikutnya, demikian selanjutnya. Dalam kegiatan pertambangan secara keseluruhan terdapat beberapa tahapan kegiatan. Pentahapan ini disesuaikan dengan perizinan yang harus diminta dari Pemerintah, meskipun kenyataannya dilapangan pentahapan tersebut berbeda secara teknis. Tahapan kegiatan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan atau feasibility study, penyiapan Amdal, konstruksi, eksploitasi berupa penambangan dan pengolahan, transportasi dan pemasaran atau penjualan. Sedangkan secara teknis tahapan kegiatan tersebut umumnya berupa :

  1. Tahap Survei dan Penyelidikan Umum,
  2. Tahap Eksplorasi,
  3. Tahap Eksploitasi,
  4. Tahap Pengolahan.

Dengan berbagai tahapan kegiatan tersebut tentunya dibutuhkan berbagai sarana pendukung yang memadai dan sesuai dengan spesifikasi dan tujuan kegiatan. Sarana pendukung kegiatan menjadi sangat vital dalam industri pertambangan karena karakteristik dan sifat industri tersebut sangat berbeda dengan karakteristik industri pada umumnya.

1.2    Maksud dan Tujuan

Sebagaimana telah disebutkan di atas, industri mineral memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan industri lain sehingga pengembangannya juga membutuhkan penanganan yang berbeda dengan industri non mineral. Beberapa karakteristik tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Membutuhkan modal besar baik tahap eksplorasi maupun produksi,
  2. Adanya resiko investasi yang tinggi dengan tingkat keberhasilan relatif kecil,
  3. Memerlukan penggunaan teknologi maju
  4. Merupakan industri jangka panjang yang tidak bisa segera mendapatkan hasil (quick yielding)
  5. Berdampak besar terhadap lingkungan sosial dan masyarakat.

Sedangkan sifat khusus industri ini adalah umumnya dilaksanakan pada daerah terpencil (remote area) yang jauh dari jangkauan berbagai fasilitas dan infrastruktur umum. Dengan demikian pengadaan berbagai fasilitas penunjang yang belum tersedia tersebut, mutlak dilaksanakan guna mendukung keberhasilan pengelolaan sumber daya mineral. Permasalahan inilah yang dimaksudkan sebagai bahan pembahasan dalam penulisan paper ini, dengan tujuan untuk memahami sarana pendukung apa saja yang dibutuhkan sesuai dengan karakteristik dan sifat khusus industri pertambangan tersebut.

BAB II. SARANA PENDUKUNG DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

Secara teknis terdapat beberapa tahapan kegiatan dalam kegiatan pertambangan. Tahapan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi berupa penambangan dan tahapan pengolahan. Kesemua tahapan teknis tersebut membutuhkan pengadaaan berbagai sarana pendukung mengingat lokasinya yang terpencil (bersifat remote area) sehingga jauh dari jangkauan sarana dan infrastruktur. Berikut disampaikan beberapa sarana pendukung yang dibutuhkan dalam setiap tahapan pertambangan :

2.1.Tahap Survei dan Penyelidikan Umum

Tahapan ini didominasi oleh kegiatan geologi. Dalam tahap survei, pemetaan geologi merupakan dasar untuk kegiatan selanjutnya. Pemetaan geologi dibantu dengan berbagai metode dan teknologi. Salah satu teknologi yang cukup penting adalah teknologi penginderaan jauh atau remote sensing.

Teknik penginderaan jauh adalah suatu teknik merekam muka bumi dari udara atau dari ruang angkasa dengan menggunakan pesawat terbang, balon, ataupun satelit. Alat yang digunakan untuk perekaman itu pun bermacam-macam, mulai dari kamera sederhana, kamera trimetrogon (tiga kamera sekaligus), kamera multispektral, sampai kamera video (elektronik). Perekaman juga dimaksudkan untuk dapat meneliti sifat­sifat geofisika batuan yang terdapat di muka bumi. Semua survei dari udara ini dinamakan airborne surveys.

Survei geofisika dari udara ini pun dapat menyediakan data mengenai gaya berat, kemagnetan, dan radioaktivitas. Dalam kombinasi dengan survei video (Radio Beam Vidicon, RBV) dapat dihasilkan data perbedaan suhu atau thermal survey. vey. Dari data ini, jenis batuan dapat dibedakan. Tetapi, yang lebih penting dari hasil survei geofisika ini adalah keadaan di bawah permukaan tanah yang menembus puluhan sampai ratusan meter. Survei geofisika sangat tepat untuk mencari mineral atau menentukan bentuk cekungan untuk mencari minyak bumi.

Hasil-hasil survei umum dapat dipakai untuk merancang peta geologi aplikatif. Kunjungan lapangan pada tahap ini dinamakan tahap tinjau atau reconnaissance, pengenalan. Berdasarkan rancangan ini dapat dilakukan tahap selanjutnya, yaitu pemetaan geokimia. Untuk eksplorasi logam dasar, pengambilan contoh dari sungai (stream sediment sampling) biasanya memberikan indikasi perkiraan letak suatu cebakan, karena rombakan atau larutan kimia dari mineral tersebut dibawa air hujan mengalir sepanjang sungai. Pengambilan contoh tanah juga sangat penting untuk melokalisasi daerah yang mempunyai nilai yang berbeda dengan nilai rata-rata atau anomaly.

Tahap selanjutnya adalah melakukan survei geofisika di daratan. Dengan sendirinya daerahnya sudah makin diciutkan karena daerah sasaran makin tajam. Penciutan ini dalam rangka efisiensi, karena survei geofisika yang mempergunakan berbagai peralatan itu memerlukan waktu dan biaya yang relatif mahal. Penciutan terus dilakukan dan sasaran makin dipertajam, terutama pada saat memasuki tahap pengeboran yang biaya dan waktunya relatif paling mahal dibandingkan dengan tahap-tahap sebelumnya.

Dalam tahap penyelidikan umum diperkenankan mengambil contoh batuan dan menganalisisnya. Pada tahap ini belum diperkenankan pengeboran, kecuali bor tangan (hand auger) yang mampu menembus tanah beberapa meter dalamnya. Oleh sebab itu dalam tahapan ini belum banyak dibutuhkan sarana fisik pendukung kegiatan di lapangan.

2.2.Eksplorasi

Semua data yang diperoleh dari penyelidikan umum, baik melalui panca indera maupun cara modern, dikumpulkan dan diolah oleh para manajer eksplorasi, biasanya ahli geologi atau ahli tambang eksplorasi. Dari evaluasi ini kemudian disusun program pengeboran. Pada tahap ini biayanya relatif paling besar dibandingkan dengan tahap-tahap lainnya, sehingga asas efisiensi sangat penting. Di sini sangat dibutuhkan keahlian para manajer dalam merancang pengeboran dengan informasi yang sudah diperoleh.

Pengeboran dapat dibagi pula dalam beberapa tahapan. Pengeboran uji mungkin dibuat dalam jumlah terbatas, hanya untuk mengklarifikasi beberapa dugaan dan hipotesis kerja. Misalnya, pengeboran uji dalam panas bumi dilakukan untuk menguji sifat kimia uap. Program selanjutnya adalah pengeboran secara sistematik, yang dirancang untuk menghasilkan model-model komputer bagi perancangan penambangannya nanti.

Pengeboran dilakukan untuk mengambil batuan dari setiap kedalaman. Biasanya ukuran yang dipakai adalah diameter 1,5 inci atau lebih-kurang 3,5 cm, atau ukuran yang lebih besar, yaitu 2,5 inci atau lebih-kurang 6 cm. Dalam peristilahan pengeboran ukuran ini masing-masing dinamakan AX dan BX. Pengeboran untuk mengambil contoh batuan ini dinamakan pengeboran inti. Jadi, tidak hanya semata-mata membuat lubang. Batuan yang diambil atau core hares utuh. Makin utuh, makin bagus. Karena itu, diperlukan pemerian atau deskripsi tentang recovery atau jumlah inti yang terambil dengan baik yang dinyatakan dalam persentase.

Pengeboran pada eksplorasi batu bara juga hampir sama dengan pengeboran pada eksplorasi mineral logam. Bedanya, batuan yang dibor pada eksplorasi batubara lebih lunak daripada pada batuan vulkanik atau batuan beku tempat terdapatnya mineral logam. Mata bor yang dipakai juga berbeda. Untuk batuan lunak, seperti batuan sedimen, mata bor cukup dari baja (steel bit), sedangkan untuk batuan keras, mata bor dibuat dari intan (diamond bit). Tentu saja intan yang dipakai di sini adalah intan industri, yaitu intan kecil-kecil yang ditanam pada mata baja. Pengeboran batubara biasanya dangkal, yaitu 30 atau 40 meter, karena sejauh ini batubara yang ekonomis untuk ditambang adalah batubara yang letaknya tidak terlalu dalam. Pengeboran pada eksplorasi logam bisa mencapai ratusan meter, sangat tergantung pada bentuk cebakan dan sasaran yang ingin dicapai. Pengeboran minyak bumi ukurannya jauh lebih besar, kedalamannya pun bisa mencapai ratusan meter. Sejauh ini pengeboran terdalam yang pernah dilakukan dalam eksplorasi minyak bumi di Indonesia mencapai lebih dari 2 kilometer.

Inti (core) yang diperoleh dari pengeboran ini kemudian diletakkan pada kotak batuan sederhana yang terbuat dari papan atau dari aluminium. Di situ batuan disusun menurut kedalamannya. Ahli geologi (well-site geologist) dapat segera melakukan pemeriksaan atas batuan tersebut. Sesudah inti ini tersusun dengan rapi, lengkap dengan tanda-tanda kedalamannya, dilakukan pemeriksaan kasar oleh ahli geologi dengan mata telanjang atau dengan menggunakan kaca pembesar (hand Tense). Pemeriksaan kasar ini akan memberikan gambaran tentang gejala mineralisasi, taksiran besarnya mineralisasi dan keadaan batuannya, teralterasi atau segar, dan sebagainya. Data ini akan menunjang perkiraan yang dibuat sebelumnya dalam skenario pengeboran oleh manajer eksplorasi. Kemajuan setiap mata bor diikuti terus menerus. Dan pengeboran ini dapat dilakukan sekaligus, paralel beberapa unit bor. Tentu hal ini sangat tergantung pada seberapa intensif program eksplorasi itu.

Pengeboran dari satu titik dapat dilakukan ke semua arah, tegak ke bawah, miring, horizontal, bahkan miring ke atas. Air sangat diperlukan dalam pengeboran inti. Dalam pengeboran minyak, untuk membuat lubang, diperlukan lumpur pengeboran yang berat jenisnya besar, biasanya dipakai lumpur bentonit atau merek dagang `baroid’. Lumpur yang berat ini bukan saja dimaksudkan sebagai pelumas, melainkan juga untuk mengangkat potongan batuan yang dimakan mata bor ke permukaan tanah. Potongan ini dinamakan chip, ukurannya beberapa mm sampai beberapa cm, bersudut-sudut tajam.

Inti batuan yang tersusun dalam kotak dibawa ke tempat penggerusan. Di sini contoh dibelah (splitting), dan diperiksa kembali mineralisasi yang terdapat di dalamnya, lalu dilakukan pemilahan. Bila batuannya, bersih, tidak ada mineralisasi, tidak dilakukan pembelahan. Bila terdapat mineralisasi, dilakukan pembelahan. Satu belahan disimpan kembali ke dalam kotak, sedangkan belahan lainnya dibubukkan sampai ukuran beberapa cm (grinding). Hasil pembubukan dibagi dua, sebagian dimasukkan ke dalam kantong, sebagian lagi digerus (pulverizing). Hasil penggerusan berupa tepung dibagi ke dalam tiga kantong. Setiap kantong dikirim ke laboratorium yang berbeda untuk cross-chek dan untuk dokumen arsip. Semua kantong selalu diberi label kedalaman yang jelas. Dalam eksplorasi di Ertsberg Irian Jaya, hasil akhir adalah analisis laboratorium yang dikerjakan di Amerika dan Australia.

Penggerusan dan analisis kimia dilakukan di tempat yang berbeda. Penggerusan dilakukan di Timika, sedangkan analisis laboratorium dilakukan di luar Indonesia. Selain itu, pemeriksaan pertama oleh ahli geologi dilakukan di site pengeboran, yaitu di Ertsberg, lebih-kurang 50 kilometer dari Timika. Ahli geologi yang melakukan pemeriksaan pun berbeda-beds dan melakukannya secara bergiliran sambung-menyambung.

Dari uraian kegiatan eksplorasi diatas, dapat disimpulkan bahwa pembangunan beberapa sarana fisik pendukung kegiatan di lapangan sudah mulai dibutuhkan meskipun masih dalam bentuk persiapan. Aktivitas pengeboran dan pemeriksaan sampel batuan harus ditunjang dengan penyediaan peralatan dan sarana pendukung yang memadai. Jalan sudah mulai dibuka agar akses masuk dan keluar lokasi pengeboran menjadi lancar dan mudah baik bagi peralatan maupun tenaga kerjanya. Bangunan – bangunan semi permanen untuk tempat tinggal pekerja dan kegiatan pemeriksaan batuan perlu dibangun lengkap dengan fasilitas umumnya terutama penyediaan sarana listrik dan air bersih. Kebutuhan akan sarana penunjang ini masih bersifat relatif tergantung pada intensitas dan luasnya lokasi pengeboran. Semakin kegiatan pengeboran menghasilkan kepastian jumlah dan lokasi cebakan, semakin banyak sarana yang harus dibangun guna mendukung pelaksanaan tahapan selanjutnya. Denah konstruksi tambang sudah mulai disusun dan sebagian sarana terutama badan jalan, dibangun sebagai persiapan masuk ke tahap eksploitasi.

2.3.Eksploitasi

Tahap eksploitasi atau penambangan merupakan tahap yang paling utama dari seluruh rangkaian kegiatan pengembangan sumberdaya mineral. Semua penyelidikan yang telah dilakukan, sejak mencari mineral sampai ditemukannya mineral tersebut, pada akhimya bermuara pada kegiatan penambangan. Dalam tahap sebelumnya, risiko untuk tidak menemukan cebakan sangatlah besar. Investasi yang ditanam bisa sama sekali tidak menghasilkan. Dalam tahap pertambangan, konsentrasi diletakkan pada teknologi penambangan yang efisien, mineral terambil dengan cara yang baik (good mining practice), tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

Secara garis besar, penambangan dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu tambang terbuka (open pit) dan tambang dalam (underground mining). Kedua penggolongan ini memberikan dampak yang berlainan, demikian pula teknologi penambangannya. Perlu ditambahkan bahwa ada juga kelompok ke-3, yaitu penambangan yang dilakukan dengan pengeboran, seperti penambangan minyak bumi, panas bumi, dan penambangan berbagai garam, yodium, dan sebagainya.

Dampak lainnya adalah buangan (tailing) hasil penggalian dan hasil pengolahan, yang bisa berbentuk zat padat, air, ataupun kimia. Dampak seperti ini dapat pula ditimbulkan oleh penambangan bawah tanah, namun lebih terkendali, karena material yang digali dari dalam terowongan juga terbatas dan penggalian dilakukan dengan selektif, yaitu hanya untuk batuan yang ekonomis. Selain itu, bisa juga dilakukan teknik menggali dan mengisi, atau dlkenal sebagai cut and fill. Pada penambangan terbuka, semua batuan diangkat dan kemudian dihancurkan, untuk selanjutnya dilakukan ekstraksi dari semua batuan yang telah dihancurkan tersebut.

Keuntungan utama penambangan terbuka adalah teknologinya yang lebih sederhana dibandingkan dengan penambangan dalam. Pada penambangan dalam, teknologi yang khusus sangat diperlukan. Selain itu, ancaman keselamatan juga sangat tinggi. Ledakan karena adanya gas di dalam pertambangan batubara sangat sering terjadi dan menimbulkan banyak korban. Runtuhnya terowongan karena kegagalan teknik, seperti yang disebabkan oleh getaran peledakan, dapat menjebak para penambang. Sementara itu, di beberapa penambangan, suhu yang tinggi sangat menyulitkan kegiatan.

Penambangan terbuka banyak dilakukan untuk batubara. Hampir semua penambangan batubara di Indonesia dilakukan dengan cara tambang tersebut, dan ini semata-mata karena pertimbangan ekonomis. Kelemahan pertambangan terbuka adalah terbatasnya kedalaman tanah yang dapat terus digali, antara lain karena masalah kestabilan lereng. Untuk menggali lebih dalam, diperlukan lubang yang besar; makin dalam menggali, makin besar lubang yang harus dibuat, sehingga tinggallah nanti lubang yang menganga. Masalah lain adalah air tanah, yang memang dapat diatasi dengan pemompaan, namun diperlukan biaya tambahan untuk melakukan kegiatan ini.

Penambangan minyak dan gas bumi, penambangan iodium di Mojokerto, dan pemanfaatan panas bumi, mempunyai ciri tersendiri. Lahan yang dipakai dalam kegiatan ini relatif sangat terbatas. Apalagi jika dilakukan di lepas pantai; praktis tidak ada lahan yang dirusak. Pada kegiatan lepas pantai ini masalah yang dihadapi adalah kegiatan para nelayan dan juga pelayaran.

Untuk tahapan eksploitasi, kebutuhan akan pembangunan sarana pendukung meningkat sangat tajam dan menjadi prioritas utama dalam persiapan kegiatan. Sarana transportasi alat, material dan manusia, berupa jalan, saluran / pipa-pipa dan sistim angkutan lainnya menjadi urat nadi kegiatan pertambangan. Sedangkan bangunan untuk keperluan kegiatan perkantoran, bengkel kerja, gudang, tempat tinggal pekerja dan sebagainya juga sudah harus disiapkan lengkap dengan fasilitas penunjangnya berupa listrik, air bersih dan sebagainya.

Semakin besar skala eksploitasi dan semakin besar target produksi yang diharapkan, semakin besar dan komplek pula sarana pendukung yang harus dibangun untuk mengamankan kelancaran produksi. Pada kondisi ini sangat dibutuhkan manajemen sarana pendukung yang mampu mengelola berbagai sarana tersebut secara efisien agar tidak menjadi beban dan kendala bagi kegiatan utama yakni aktivitas pertambangan itu sendiri. Adanya gangguan pada salah satu sarana pendukung dapat berakibat fatal terhadap kelancaran siklus produksi, yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya kerugian waktu dan finansial.

2.4.Tahapan Pengolahan

Dalam tahap pengolahan terdapat berbagai proses. Pada pertambangan batubara, prosesnya hanya terbatas pada kegiatan fisika, yaitu peremukan, penggerusan, pemilahan dan pencucian. Pada proses pencucian, batubara yang tersisa dari ayakan kemudian dicuci, diendapkan, dan dikeringkan. Sisanya, berupa kotoran dalam bentuk lumpur, ditampung dalam kolam-kolam buangan.

Proses pengolahan tambang tembaga-emas di Freeport, Irian Jaya, secara garis besar menggunakan proses fisika dan kimia, yaitu flotasi untuk mengekstraksi bijih tembaga-emas. Flotasi ini meliputi kegiatan peremukan, penggilingan, pemekatan dan pengurangan kadar air. Sisanya merupakan limbah buangan.

Untuk melakukan pengolahan, sarana utama yang diperlukan adalah instalasi pengolahan dan instalasi tenaga listrik. Kedua sarana ini harus mampu menampung dan mengolah hasil kegiatan eksploitasi agar siklus keseluruhan aktivitas pertambangan berjalan dengan lancar. Pembangunan instalasi pengolahan dapat dilakukan di dalam ataupun diluar lokasi pertambangan, tergantung pada pertimbangan teknis dan ekonomisnya. Demikian pula dengan sumber kebutuhan listriknya, dapat diadakan sendiri dengan membangun fasilitas pembangkit listrik maupun dengan memanfaatkan fasilitas listrik umum yang telah tersedia.

Pada tahapan ini penting juga diperhatikan sarana pengolah limbah yang dihasilkan. Meskipun tidak secara langsung berpengaruh terhadap siklus produksi, namun perlu dibangun agar limbah buangan tidak mencemari lingkungan.

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Industri pertambangan adalah kegiatan kompleks yang berskala luas dan membutuhkan berbagai sarana pendukung. Kegiatan tersebut merupakan suatu proses yang tersusun atas urutan tahapan yang beraneka ragam. Secara teknis umumnya tahapan – tahapan tersebut terdiri dari tahap survei dan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi dan tahapan pengolahan. Dalam setiap tahapan dibutuhkan berbagai sarana pendukung agar tujuan kegiatan tahapan tersebut dapat dicapai, sekaligus sebagai persiapan menuju ke tahapan selanjutnya.

Sarana pendukung yang dimaksud diatas meliputi sarana jalan dan alat transportasi, perkantoran, pergudangan, bengkel – bengkel, instalasi listrik dan air, instalasi pengolahan dan penampungan limbah hingga akomodasi pekerja, dan lain sebagainya yang harus dibangun dan berkembang sesuai dengan kebutuhan. Pembangunan sarana pendukung tersebut menjadi ciri khas aktivitas pertambangan mengingat sifatnya yang biasanya berlokasi pada remote are atau daerah terpencil. Dengan demikian keterbatasan prasarana dan fasilitas umum harus dapat ditanggulangi secara mandiri dengan membangun semua prasarana dan fasilitas tersebut di lokasi penambangan.

Fenomena tersebut menyebabkan perlunya manajemen sarana pendukung yang baik agar secara keseluruhan dapat berfungsi mendukung kegiatan utama berupa aktivitas pertambangan itu sendiri. Fungsi sarana pendukung dapat diibaratkan sebagai bagian dari mata rantai siklus produksi pada industri pertambangan. Jika muncul gangguan di dalam salah satu urutan mata rantai tersebut dan tidak segera diatasi, dapat berpotensi membuat seluruh rantai siklus terhenti sejenak. Kejadian ini tidak hanya mengakibatkan kerugian besar dalam biaya dan usaha perbaikan, tetapi selanjutnya menyebabkan pula kehilangan waktu dan kekurangan produksi, yang dikenal dengan istilah opportunity loss.

Rangkaian proses terpadu tersebut tidak akan dapat berjalan sendiri dengan mulus dan terus-menerus selama kegiatan produksi tanpa adanya pengawasan dan dukungan perawatan dari suatu organisasi yang selalu siap sedia saat diperlukan sepanjang proses tersebut. Kehadiran organisasi ini tidak hanya diperlukan dalam pengawasan dan perawatan, tetapi juga dalam lingkup pengadaan dan persediaan suku cadang, alat perlengkapan sampai dengan bahan – bahan teknis yang diperlukan.

Oleh karena adanya kompleksitas tersebut dan tuntutan untuk selalu menjaga siklus produksi, maka operasional sarana pendukung perlu diatur oleh suatu manejemen yang rapi, yang terdiri dari beberapa sub manajemen spesifik sesuai bidang sarana yang harus ditanganinya. Dengan demikian sarana pendukung dapat terus berfungsi sesuai peruntukannya untuk menunjang kelancaran siklus produksi, sekaligus tidak membebani manajemen pusat dan kegiatan inti dari industri pertambangan itu sendiri.

Dengan adanya klasifikasi manajemen sarana pendukung yang jelas dan spesifik, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab perusahaan menjadi lebih mudah. Untuk alasan efisiensi, sarana pendukung bahkan dapat dilimpahkan ke pihak dluar perusahaan melalui kerjasama dengan pihak lain atau dengan privatisasi. Dalam sejarah perjalanan PT. Freeport Indonesia misalnya, telah berhasil diterapkan sebuah kebijakan cemerlang yang sangat menguntungkan perusahaan. Dengan menjalin kerjasama dan melalui privatisasi terhadap berbagai sarana pendukung yang dimilikinya, PT. Freeport Indonesia berhasil mengurangi beban pengelolaan sarana pendukung dan melimpahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak lain yang lebih profesional dibidangnya, sekaligus mendapatkan laba dari hasil penjualan aset sarana – sarana tersebut.

BAB IV. KESIMPULAN

Kegiatan pengelolaan sumber daya mineral merupakan sebuah proses panjang yang dilaksanakan dalam beberapa tahapanan. Tingkat keberhasilan suatu tahapan akan menentukan pelaksanaan tahapan berikutnya, demikian selanjutnya. Secara teknis terdapat beberapa tahapan kegiatan dalam kegiatan pertambangan. Tahapan tersebut berupa penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi berupa penambangan dan tahapan pengolahan. Masing – masing tahapan membutuhkan berbagai sarana pendukung agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

Industri pertambangan umumnya dilaksanakan pada daerah terpencil (remote area) yang jauh dari jangkauan berbagai fasilitas dan infrastruktur umum. Dengan demikian pengadaan berbagai fasilitas penunjang yang belum tersedia tersebut, mutlak dilaksanakan guna mendukung keberhasilan pengelolaan sumber daya mineral.

Semakin besar skala industri dan target produksi yang diharapkan, semakin besar dan komplek pula sarana pendukung yang harus dibangun untuk mengamankan kelancaran produksi. Pada kondisi ini sangat dibutuhkan manajemen sarana pendukung yang mampu mengelola berbagai sarana tersebut secara efisien agar tidak menjadi beban dan kendala bagi kegiatan utama yakni aktivitas pertambangan itu sendiri. Adanya gangguan pada salah satu sarana pendukung dapat berakibat fatal terhadap kelancaran siklus produksi, yang pada akhirnya mengakibatkan timbulnya kerugian waktu dan finansial.

Tentang antoniuspatianom

PNS Pemkab. Barito Utara, saat ini tengah menyelesaikan study magister pengembangan kewilayahan pertambangan di Unpad Bandung.
Pos ini dipublikasikan di Semester II. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s