PENTINGNYA STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL DI INDONESIA DALAM MENYONGSONG ERA PASAR BEBAS DAN MERAIH PROSPEK DI MASA DEPAN

BAB I. PENDAHULUAN

Sumberdaya mineral adalah sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui lagi, pada suatu saat sumberdaya tersebut tidak akan ada lagi di bumi jika terus – menerus digunakan. Demikian pula di Indonesia, meskipun kita memiliki berbagai macam cebakan dan beberapa diantaranya dalam jumlah yang besar, namun jika terus di ekploitasi maka semuanya pada suatu saat akan habis.

Mineral terkumpul atau tersebar di beberapa lokasi karena proses geologis pembentukannya, sehingga penyebarannya di dunia tidak merata. Ada negara yang memiliki sumberdaya mineral dalam jumlah yang banyak dan melimpah, ada yang hanya memiliki mineral tertentu saja dan bahkan ada yang sangat sedikit memilikinya. Beruntunglah Indonesia karena kita memiliki berbagai macam cebakan dan sebagian diantaranya berjumlah cukup besar.

Sumberdaya mineral merupakan sumber yang sangat penting dalam menopang perekonomian Indonesia, terutama minyak dan gas bumi yang pernah menjadi pilar utama perekonomian Pemerintah. Dalam skala global, mineral – khususnya penghasil energi utama; umumnya berperan strategis dalam menentukan peta perpolitikan dunia.

Sumberdaya mineral memiliki nilai berbeda diwaktu yang berbeda, dan nilai tambah yang berbeda pula sesuai proses pengolahannya. Sehingga diperlukan strategi pengelolaan yang paling tepat bagi suatu negara yang memilikinya.

BAB II. INDONESIA SEBAGAI PRODUSEN BAHAN MENTAH

Beberapa mineral telah menjadi andalan sektor pertambangan di Indonesia. Produksi dan cadangannya juga cukup besar. Minyak dan gas bumi, batu bara dan aneka logam dasar serta sumberdaya mineral lainnya merupakan komoditi tambang potensial yang ada di Indonesia. Di antara sumberdaya mineral tesebut, beberapa di antaranya memiliki jumlah cadangan yang cukup signifikan, meskipun tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan cadangan di seluruh dunia. Nikel sebanyak 15 persen, Timah  8 persen dan tembaga 5 persen dari total cadangan dunia.

Dari Potensi sumberdaya mineral tersebut, sudah sewajarnya jika Indonesia dapat meraih keuntungan melimpah guna meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Namun keuntungan tersebut ternyata belum bisa maksimal karena selama ini sumberdaya mineral yang ada lebih banyak terjual dalam bentuk mentah atau hanya melalui proses pengolahan yang minimal. Hal ini terkait dengan keterbatasan teknologi dan sumberdaya manusia karena sektor industri pengolahan mineral membutuhkan teknologi tinggi dan pengetahuan yang memadai.

Dalam industri mineral, konsep nilai tambah adalah visi utama yang harus diraih jika menginginkan keuntungan yang maksimal. Industri mineral adalah kelanjutan dari kegiatan pertambangan, karena melalui industri ini bahan tambang dalam bentuk mentah akan ditransformasi menjadi produk – produk lain yang nilai jualnya jauh lebih tinggi. Sebagai contoh minyak bumi sebagai bahan bakar pembangkit listrik akan memiliki nilai jual lebih tinggi jika dipakai sebagai bahan baku industri polimer, atau jika dikombinasikan dengan mineral lainnya akan menghasilkan berbagai produk material pintar seperti melamin, teflon, aneka busa dan sebagainya.

Namun kenyataan selama ini hasil tambang Indonesia hampir seluruhnya diekspor dalam bentuk mentah. Hanya sedikit pengolahan yang dapat dilakukan di Indonesia. Hal ini sebagaimana telah disampaikan diatas, berkaitan erat dengan kemampuan sumberdaya manusia dan teknologi untuk mengolahnya. Selain itu juga dibutuhkan modal yang cukup besar untuk membangun fasilitas pengolahan tersebut. Dilain pihak, pasar dikuasai oleh para pelaku tertentu yang selain mampu menentukan harga juga menentukan produk apa yang dapat dipasarkan. Kekuasaan tersebut berwujud antara lain dengan kemampuan untuk mempersyaratkan bahwa produk harus memenuhi kriteria standar tertentu, sebelum dianggap layak memasuki pasar dunia. Kemampuan lainnya adalah analisis kondisi ekonomi makro atau internasional, yang digunakan oleh sekelompok pelaku pasar dalam menciptakan harga.

Gambaran tentang komoditas mineral Indonesia yang hampir seluruhnya diekspor dalam bentuk mentah, disandingkan dengan konsep nilai tambah, setidaknya dapat menyadarkan kita untuk dapat segera bangkit dan meraih peluang tersebut. Dapat dibayangkan bahwa selama ini Indonesia mengekspor kemudian mengimpor kembali mineralnya sendiri sesudah menjadi produk akhir di negara lain, dengan selisih harga yang berlipat ganda. Karena komoditas tambang Indonesia hampir seluruhnya diekspor, dapat dikatakan bahwa nilai komoditas itu sangat tergantung pada keadaan pasar. Situasi politik internasional sangat berpengaruh terhadap pasar, demikian pula strategi dagang dari setiap pelaku pasar (buyer’s market) yang jumlahnya terbatas namun sangat mempengaruhi pasar.

Jika hal ini terus berlanjut, Indonesia tidak dapat berbuat banyak, kecuali menyiapkan produksi untuk dapat memenuhi semua kontrak yang telah ditandatangani sehingga selamanya Indonesia hanya akan jadi wilayah pengerukan.

BAB III. DISKUSI DAN PEMBAHASAN, PENTINGNYA STRATEGI PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL DI INDONESIA DALAM MENYONGSONG PASAR BEBAS DAN MERAIH PROSPEK DI MASA DEPAN

Kontribusi sektor tambang terhadap pendapatan negara hanya mencapai 4 persen pada tahun 2005, akibat sebagian besar produksi mineral diekspor dalam bentuk bahan mentah. Setelah hampir 40 tahun indonesia mengelola sektor tambang ternyata masih belum mampu mengembangkan industri hilir berbahan baku mineral. Hal inilah yang menyebabkan sektor tambang tidak memberikan value added yang nyata buat perekonomian nasional.

Pemerintah sebagai pelaksana dari peraturan perundangan, sudah seharusnya segera membenahi sektor tambang agar bisa memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap perekonomian negara sekaligus tanpa mengorbankan keselamatan rakyat dan lingkungan. Sejalan dengan isu – isu global (yang berhubungan dengan pasar bebas), strategi yang sebaiknya diambil adalah dengan mengkombinasikan antara konsep nilai tambah dengan konsep pertambangan yang berkelanjutan. Melalui konsep nilai tambah, bahan tambang dalam bentuk mentah ditransformasi melalui industri mineral menjadi produk – produk lain yang nilai jualnya jauh lebih tinggi. Sedangkan dengan konsep pertambangan yang berkelanjutan akan terwujud kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan keselamatan lingkungan meskipun nantinya sumberdaya mineral tersebut telah habis terpakai. Kombinasi dari kedua konsep tersebut bisa menghasilkan suatu strategi yang paling efektif dalam mengelola sumberdaya mineral. Disatu sisi Indonesia akan memperoleh keuntungan maksimal dari sumberdaya mineral yang dimilikinya, disisi lain keuntungan tersebut benar – benar dapat mensejahterakan masyarakat tanpa harus mengorbankan keselamatan lingkungan.

Kesigapan Pemerintah melalui penerapan strategi tersebut bisa menjadi momentum yang paling tepat dalam menghadapi era pasar bebas yang mau tak mau harus kita terima. Pasar bebas dengan sertifikasi standarisasinya yang ketat menjadi ukuran apakah suatu produk dapat memasuki pasar dunia. Sertifikasi ini diberikan oleh perusahaan yang ditunjuk oleh World Trade Organization (WTO) yang memeriksa cara pembuatan produk dan dampak proses pengolahannya terhadap lingkungan.

Setiap perkembangan internasional, baik yang berhubungan langsung dengan dunia pertambangan maupun yang tidak langsung, adalah faktor yang perlu diperhitungkan oleh Pemerintah. Melalui penerapan strategi yang paling tepat maka niscaya Indonesia akan lebih mudah memasuki era pasar bebas sekaligus meraih prospek keuntungan yang maksimal dari gejolak / fluktuasi sumberdaya mineral dunia.

BAB IV. KESIMPULAN

Berdasar gambaran sistem produksi dan sistem pemasaran pada bab – bab sebelumnya, serta pentingnya peran kebijakan Pemerintah dalam menentukan strategi pengelolaan sumberdaya mineral Indonesia, maka sudah saatnya Pemerintah segera mengevaluasi apa yang telah dicapai selama ini sekaligus menganalisa prospek pertambangan pada masa yang akan datang. Karena posisi Indonesia sebagai negara produsen bahan mentah kurang menguntungkan, sementara kecendrungan pasar bebas semakin ketat dalam mensyaratkan suatu produk layak atau tidak untuk diperdagangkan di dunia.

Dengan menggunakan analisis keunggulan, kelemahan, peluang dan ancaman terhadap sektor pertambangan di Indonesia, maka akan dapat terdefinisi faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi prospek pertambangan Indonesia di masa depan. Dengan mengetahui faktor – faktor tersebut Pemerintah dapat menyusun strategi agar keunggulan mendatangkan keuntungan guna menutupi kelemahan, peluang dapat diraih dan ancaman dapat dihindarkan.

Pemerintah juga harus cermat dalam menghadapi berbagai ketentuan internasional berupa sertifikasi yang harus dapat dipenuhi sehubungan dengan era pasar bebas. Pemerintah sudah saatnya mempersiapkan bangsa ini dalam memasuki era tersebut, khususnya di sektor pertambangan dengan kesiapan strategi dan sumberdaya manusia serta penguasaan teknologi dan ketersediaan modal.

Tentang antoniuspatianom

PNS Pemkab. Barito Utara, saat ini tengah menyelesaikan study magister pengembangan kewilayahan pertambangan di Unpad Bandung.
Pos ini dipublikasikan di Ringkasan Tugas, Semester I. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s